Categories: BudayaOpini

Membaca adalah Belajar Menghadapi Tantangan

Membaca adalah belajar menghadapi tantangan. Pertimbangan lain, ketika melihat anak-anak di sekolah dan di luar sekolah adalah terkait buku bacaan anak-anak. Ada buku bacaan yang berat, ada juga buku bacaan yang ringan.

Aku sendiri sering membayangkan, mana mungkin anak-anak diberi bacaan, taruhlah novel-novelnya Pramoedya. Memang ada kemungkinan ia bisa membaca, tapi ia tidak akan tahu artinya. Mungkin karena itu, di beberapa penerbit memberi kategori buku-buku khusus buku anak.

Namun, aku percaya, semakin banyak buku bacaan anak yang dibaca anak-anak, maka kemampuan menghadapi masalahnya juga akan meningkat.

Sumber gambar: Unplash @josephlegate

Di tulisan sebelumnya, tentang pentingnya waktu membaca bagi anak-anak-anak, sudah aku katakan kalau waktu membaca anak-anak tidak dapat dinegosiasikan. Namun, waktu yang panjang untuk membaca itu kadang tak selalu efektif. Hal ini karena anak-anak tentu tak selalu memahami arti atau maksud dari semua tulisan yang ada di buku yang ia baca.

Lalu ia akan bertanya pada guru atau siapapun mengenai arti kata itu. Buku bacaan anak-anak yang terlalu berat bagi dia, jika ia membaca terus-menerus, maka saya yakin, anak umur 12-13 tahun sudah bisa menangkap arti dalam novel-novelnya Pramoedya.

Toh, ada banyak yang sudah bisa menghafal Al-Quran beberapa juz di umur yang masih anak-anak.

Membaca adalah belajar menghadapi tantangan

Mungkin kali ini aku akan menganalogikannya dengan olahraga angkat besi. Seorang atlet angkat besi yang setiap hari pergi latihan mengangkat beban setiap hari, tetapi hanya mengangkat beban yang sama setiap hari, maka ia tidak akan cukup kuat untuk mengangkat beban yang lebih berat. Tapi jika beban terlalu berat, bisa jadi akan melukai dirinya sendiri. Begitu juga dengan anak-anak.

Jadi, yang dibutuhkan adalah bacaan yang menantang. Tidak terlalu berat, tapi ada peningkatan. Dengan bacaan yang deperti itu, maka anak-anak akan merasa tertang untuk bisa memahami isi teks dari bacaannya. Yang penting, ada keseimbangan antara jumlah bacaan setiap hari dan kualitas bacaan itu.

Malahan menurutku, daripada berjam-jam membaca bacaan yang ringan, akan lebih baik beberapa menit tapi bacaannya pas dan menantang. Dan aku sendiri yakin, kalau anak-anak ketika merasa tertantang, ia akan semangat membaca.

Apalagi ketika melakukan itu, banyak temannya. Anak-anak akan mencari beragam cara, tanya ke sana-ke mari, dan usaha lainnya untuk bisa memahami isi buku itu. Karena itu, menurutku, membaca adalah belajar menghadapi tantangan.

Sebenarnya, ini tidak hanya berlaku untuk anak-anak. Bagi orang dewasa juga sepertinya ini berlaku. Misalnya saja Anda seorang linguis. Lalu Anda membaca buku-buku pengantar linguistik-nya Siswanto. Lalu membaca Linguistik Umum-nya Abdul Chaer. Lalu membaca bukunya Saussure yang diterjemahkan Kridalaksana, dan seterusnya. Akan sulit juga membaca bukunya Saussure jika tanpa pengantar terlebih dahulu.

Di situ, ketika Anda membaca, Anda pasti merasa ada tantangan tersendiri untuk memahami isi materi buku itu. Ya, meskipun triger-nya berbeda-beda. Tapi setidaknya dengan membaca satu buku yang bagus, pasti terbesit di benak Anda untuk membaca buku yang lain.

Tapi itu hanya pendapatku. Namun di sinilah pentingnya penelitian. Bagaimana mengelola secara efektif praktik membaca murid untuk dapat memberikan pertumbuhan yang optimal, artinya pas? Faktor apa yang paling penting sebagai bahan bacaan? Bagaimana cara terbaik menyeimbangkannya?

Dengan membaca, semuanya kembali ke kuantitas dan kualitas. Anda membutuhkan keduanya, dengan kompleksitas setinggi yang Anda bisa dapatkan tanpa mengorbankan pemahaman.

Ada satu penelitian menarik tentang Kebiasaan Membaca Dan Kebutuhan Bahan Bacaan Pemustaka Anak-Anak Di Perpustakaan Daerah Kabupaten Bandung (Penelitian Survei) oleh Yunus Winoto, dkk. Silahkan dibaca.

bacatulis

Recent Posts

Pentingnya Waktu Membaca Bagi Anak-anak

Pentingnya waktu untuk membaca bagi anak-anak, mudahnya, dikarenakan dua hal: pertama, membaca merupakan keterampilan akademis…

5 months ago

Membaca Itu Mengajari Diri Sendiri

Membaca itu mengajari diri sendiri karena berhubungan dengan penguasaan kosakata. Salah satu artikel dari eric.ed.gov…

5 months ago

Pentingnya Keterampilan Membaca Bagi Anak

Sedang nikmat-nikmatnya ngudut di warung, tiba-tiba datang seorang kawan lama duduk di depanku dan tanpa…

5 months ago

Bahasa Sebagai Bentuk Isi-Ekspresi Sekaligus

Bahasa sebagai bentuk isi-ekspresi sekaligus (BD) merupakan perpaduan antara bahasa sebagai bentuk – isi dan…

5 months ago

Bahasa Sebagai Bentuk (Isi dan Ekspresi)

Bahasa sebagai bentuk mulai terkenal pada pertengahan pertama abad 20. Para linguis mulai banyak beralih…

6 months ago

Bahasa Sebagai Substansi

Bahasa sebagai substansi beranggapan bahwa bahasa memiliki makna sebagai suatu ungkapan akan pikiran dan perasaan…

6 months ago