Categories: Ilmu Bahasa

Bahasa Sebagai Bentuk (Isi dan Ekspresi)

Bahasa sebagai bentuk mulai terkenal pada pertengahan pertama abad 20. Para linguis mulai banyak beralih pandangan dari bahasa sebagai substansi ke arah bahasa sebagai bentuk. Para linguis pada masa itu, beranggapan bahwa bahasa tidak sama seperti pikiran atau perasaan yang kita bicarakan. Mereka juga beranggapan bahwa bahasa bukan bunyi atau hasil pergerakan alat pengucap yang kita gunakan dalam rangka membicarakan pikiran atau perasaan kita.

Konsep Map bahasa sebagai bentuk

Bahasa sebagai Bentuk

Pandangan ini bersebrangan dengan pandangan linguis yang menganggap bahasa sebagai substansi. Jika dihubungkan dengan tujuan awal terkait pengajaran bahasa (lihat Kategorisasi teori bahasa), pandangan yang berkaitan dengan ontologi dan validitas bahasa ini penting untuk dijelaskan, karena banyak model pembelajaran yang berangkat dari pemahaman teori bahasa yang memandang bahasa sebagai bentuk.

Mengikuti pandangan MF. Mackey, dalam bukunya Language Teaching Analysisi (1967), dalam memandang bahasa sebagai bentuk ada tiga perbedaan dalam memandang hakekat bahasa: pertama, bahasa sebagai suatu klasifikasi tentang pikiran dan benda-benda (bentuk-isi: Area B); kedua, bahasa sebagai pengelompokan yang abstrak atau bayangan bunyi dan bentuk-bentuk bahasa (bentuk-ekpresi: area D); atau ketiga, bahasa sebagai pembentukan dari keduanya, yaitu apa yang kita bicarakan dan bagaimana kita membicarakannya (isi dan ekspresi: area BD).

Sebagai pengantar, silahkan membaca tulisan Salliyati, Peranan Filsafat Bahasa dalam Pengembangan Ilmu Bahasa. Atau tulisan Masayu Gay dalam Jurnal Gramatika Kemendikbud yang berjudul Esensi Bahasa dalam Kajian Struktural. Atau jika ingin serius, silahkan membaca buku Filsafat Bahasa karya Kaelan. Atau Buku Teori Pengajaran Bahasa dari WF. Mackey. Atau mungkin buku Alwasilah, Linguistik.

Bentuk – Isi (Area B)

Pada area ini, bahasa tidak lebih hanya sebatas alat penyusunan pikiran. Bahasa adalah bentuk simbolis yang berdiri sendiri. Linguis yang getol berpandangan seperti ini adalah salah satunya adalah Ernst Cassirer (1874-1945).

Cassirer menganggap bahasa adalah bentuk mental yang berdiri sendiri dan terpisah dari bentuk-bentuk simbolis yang lain seperti insting dan pikiran ilmiah (tentang pandangan Ernst Cassirer tentang bahasa sebagai bentuk simbolis akan dijelaskan terpisah dari artikel ini).

Linguis yang berpandangan seperti ini menganggap bahasa tidak memperhitungkan bunyi dan bentuk bahasa. Mereka juga menolak menghubungankan bahasa sebagai substansi atau ekspresi. Karena itu, teori yang berlandaskan pandangan ini, tidak dianjurkan digunakan sebagai dasar pengajaran bahasa.

Bentuk – Ekspresi (D)

Bahasa sebagai Bentuk dalam pandangan Cassirer

Berbeda dengan pandangan Cassirer, linguis yang mempunyai pandangan bahasa sebagai bentuk – ekspresi (Area D) memandang bahasa merupakan sarana penyusunan manusia untuk berekspresi. Teori-teori yang berangkat dari pandangan ini juga cocok untuk diterapkan dalam pengajaran bahasa.

Salah satu teori yang terkenal dalam pandangan ini adalah teori bahasa yang dikemukakan oleh Bloomfield.

Dalam menyusun teorinya, Bloomfield pertama-tama menyisihkan pikiran, perasaan atau benda-benda dari masalah kebahasaan. Hal itu dikarenakan, menurut Bloomfield, bahasa tidak berurusan dengan masalah-masalah mental atau kejiwaan dan tidak pula berurusan dengan masalah fisiologi.

Makna atau arti sebuah ujaran mustahil untuk bisa dianalisis melalui ilmu bahasa (linguistik). Dasar argumen Bloomfield terkait hal ini adalah totalitas sebuah ujaran yang mengandung pengertian atau makna wajib mempunyai sifat “kebenaran”, maksudnya ujaran itu harus mempunyai pengertian dan kebenaran yang digunakan dalam pengertian pragmatis. Ujuran itu misalnya: Si Fulan membelah gunung.

Jadi, masalah hakikat kebenaran tidak ada hubungannya sama sekali dengan hakikat bahasa.

Perihal arti, fonetik, dan mental

Kerena masalah bahasa adalah masalah ekspresi yang alamiah, maka persoalan arti, fonetik dan makna tidak menjadi bagian. Dalam hal ini, dalam rangka menjaga kemurnian ilmu bahasa dan ketepatan teorinya, mereka melemparnya pada bidang lain: terkait arti diberikan kepada ahli-ahli antropologi; terkait masalah fonetik diberikan kepada ahli fisika; dan terkait mental diberikan pada ahli-ahli psikologi.

Namun, cabang-cabang ilmu bahasa tadi tak satupun yang selaras dengan cabang-cabang ilmu tersebut. Sulit bagi seorang antropolog untuk memahami arti sebuah ujaran jika tidak berlandaskan pada ekspresi bahasa. Begitu juga seorang ahli fisika yang mungkin ingin mengetahui resonansi atau getaran suatu bunyi bahasa jika tidak berangkat dari linguistik. Apalagi hubungannya dengan mental dan psikologi.

Sebagai tambahan, tokoh linguis lain yang terkenal yang berpandangan mirip dengan Bloomfield adalah Rudolf Carnap (1891-1970). Teori tentang sintaksis logis bahasa atau bahasa positivisme yang dikemukakan beranganggapan bahwa bahasa adalah bentuk ekspresi. Teori ini kurang cocok jika dijadikan landasan menyusun metode pengajaran bahasa.

Bila teori bahasa Bloomfield hanya membicarakan bentuk ucapan bahasa yang alamiah, Carnap membicarakan bentuk tertulis dari bahasa apa saja, terutama bahasa buatan yang digunakan oleh ahli-ahli logika untuk kepentingan studi mereka.

Isi dan ekspresi

Pandangan bahasa sebagai isi dan ekspresi ini bisa dikatakan merupakan gabungan bahasa sebagai bentuk – isi (area B) dan bahasa sebagai bentuk – ekspresi (area D). Terdapat banyak teori yang tidak hanya membatasi ruang lingkup teori bahasanya pada persoalan ekspresi atau isi, namun meliputi keduanya.

Teori ini mengetengahkan adanya hubungan yang erat antara ekspresi bahasa dengan apa yang di maksudkan dengan ekspresi tersebut. Karena itu, sebagian besar metode pengajaran bahasa juga banyak berdasar pada pandangan ini.

Penjelasan terkait bahasa sebagai isi dan ekspresi dari bentuk bahasa akan dijelaskan secara lebih mendetil pada artikel selanjutnya. Secara ringkas, sebagian besar teori berlandaskan pandangan ini berdasar pada pendapat Saussure selaku bapak linguistik modern lalu aliran Glossematik.

Menurut Saussure, bahasa dibedakan antara koda atau sistem (langue) dari pemakaian dalam pembicaraan (parole). Dan objek dari ilmu bahasa adalah langue yang sesungguhnya merupakan bentuk (daerah BD) dan bukan substansi.

Pada perkembangannya, teori bahasa pada area ini muncul teori Glosematik yang berakar dari teori Saussure. Sasaran Glosematik ialah studi tentang bentuk. Selain ilmu tentang bentuk bahasa, maka urusan bidang ilmu lain. Teori ini juga, seperti Saussure, yang menganggap bahasa sebagai bentuk dan bukan sebagai substansi yang terdiri dari benda-benda lain tetapi terdiri dari hubungan-hubungan.

bacatulis

Recent Posts

Membaca adalah Belajar Menghadapi Tantangan

Membaca adalah belajar menghadapi tantangan. Pertimbangan lain, ketika melihat anak-anak di sekolah dan di luar…

10 months ago

Pentingnya Waktu Membaca Bagi Anak-anak

Pentingnya waktu untuk membaca bagi anak-anak, mudahnya, dikarenakan dua hal: pertama, membaca merupakan keterampilan akademis…

10 months ago

Membaca Itu Mengajari Diri Sendiri

Membaca itu mengajari diri sendiri karena berhubungan dengan penguasaan kosakata. Salah satu artikel dari eric.ed.gov…

10 months ago

Pentingnya Keterampilan Membaca Bagi Anak

Sedang nikmat-nikmatnya ngudut di warung, tiba-tiba datang seorang kawan lama duduk di depanku dan tanpa…

10 months ago

Bahasa Sebagai Bentuk Isi-Ekspresi Sekaligus

Bahasa sebagai bentuk isi-ekspresi sekaligus (BD) merupakan perpaduan antara bahasa sebagai bentuk – isi dan…

10 months ago

Bahasa Sebagai Substansi

Bahasa sebagai substansi beranggapan bahwa bahasa memiliki makna sebagai suatu ungkapan akan pikiran dan perasaan…

10 months ago