Categories: Esai

Anaximandros Sang Filsuf Udara Pertama

Anaximandros Sang Filsuf Udara Pertama adalah salah satu murid dari Thales. Ia hidup kira-kira tahun 610 SM sampai 547 SM di daerah Miletos. Ia dikenal sebagai filsuf, geolog, dan juga seorang astronom yang seangkatan dengan Thales. Pemikirannya cukup detai untuk diketahui.

Anaximandros Sang Filsuf Udara Pertama

Dalam bidang filsafat dikenal dengan konsep aperion. Sedangkan dalam bidang geografi ia mengenalkan peta. Lalu pada bidang astronomi, ia mengenalkan konsep bumi sebagai pusat. Jadi, meskipun ia bukan filsuf pertama, tapi ia dikenal sebagai bapak geografi dan astronomi dunia karena ia mengkonstruksi model geometris pertama alam semesta, dan menghasilkan sejumlah peta bumi dan langit.

Anaximandros dan Peta Dunia Gnomon. Sumber Gambar: Catatan Kecil

Di samping itu, temuannya yang terkenal adalah gnomon, sebuah penunjuk jam dan musim berupa piringan yang disekeliling lingkarannya di beri skala dan angka, dan ditengahnya ditaruh sebuah kayu tegak lurus.

Dalam bidang filsafat, ia dikenang lantaran konsep kuasi-teologisnya, aperion. Selain itu juga, ia merekonstruksi konsep arkhê dari Thales. Ia menyakini, mustahil arkhê itu berupa materi yang ditemukan manusia, arkhê harus merupakan sesuatu yang mempunyai struktur dan bentuk yang independen dari materi. Kita tak akan bisa untuk mengatakannya.

Pandangan Filsafat

Aperion

Dengan mengkritik pemikiran dari gurunya ini, kita bisa melihat betapa radikal Anaximandros. Menurut Anaximandros, prinsip terakhir yang menjadikan alam semesta adalah to aperion. Bertens (1979: 29) menjelaskan, secara bahasa to aperion berarti “yang tak terbatas”. Aperion itu bersifat ilahi, abadi, tak terubahkan dan meliputi segala-galanya. Aristoteles menerangkan alasan mengapa Anaximandros menunjukkan aperion itu sebagai prinsip yang fundamental. Kalau seandainya prinsip itu sama saja dengan salah satu anasir – seperti misalnya air pada gurunya Thales – maka air itu meresapi segala-galanya. Dengan perkataan lain, air itu berhingga.

Konsep Penceraian

Penceraian yang dimaksud adalah konsep penceraian (ekkrisis) Anaximandros untuk menjelaskan tentang bagaimana dunia timbul dari aperion.

Yang dimaksud berlawanan adalah konsep Anaximandros yang menjelaskan mengenai unsur-unsur aperion yang berlawanan (ta enantia), yang timbul karena adanya ekkrisis.

Adikia dan Dikê

Adikia adalah suasana ketidakadilan karena adanya unsur-unsur aperion yang menjadi dominan. Dikê secara bahasa berarti keadilan. Yang dimaksud keadilan di sini adalah, bahwa setelah adanya adikia, keseimbangan unsur-unsur aperion harus dipulihkan kembali dengan menggunakan hukum dikê tersebut. K. Frerman dalam Ancilla to The Pre-Socratic Philosophers, Cambridge (Mass.), 1971, hlm. 19 (dalam K. Bertens: 1979: 170) disebutkan:

“The Non-Limited (to aperion) is the original material (arkhê) of exiting things; furhter, the source from which existing thins derive their existence is also that to which they return at their destruction, according to necessity; for they give justice and make reparation to one another for their injustice, according to the arrangement of time.”

Inilah satu-satunya fragmen yang disimpan dari buku Anaximandros: buku tertua dalam sejarah filsafat. Tetapi tidak seluruh teks berasal dari pena Anaximandros sendiri. Permulaan teks berasal dari pena pengarang kuno yang menyitir Anaximandros.

Anaximandros Sang Filsuf Udara Pertama – dilema buku dan karya

Menurut H. Diels kata-kata Anaximandros sendiri mulai dengan “the source…”; tetapi J. Burnet mempunyai argumen-argumen yang kuat untuk memperkirakan bahwa kata-kata baru mulai dengan “according to necessity…”.

Dalam hal ini, K. Bertens (1979: 31) memberikan sebuah catatan sebagai berikut:

~ Further, he (Anaximandros) says that the originally man was born from animals of another species. His reason is that while other animals quickly find food by themself, man alone requires a lengthy period of suckling. Hence, had he been originally as he is now, he would never have survived.

–Pseudo-Plutarkhos, Stromateis, fragment 2.

“He (Anaximandros) declares that at first human being arose in the inside of fishes, and after having been reared like sharks, and become capable of protecting themself, they were finally cast ashore and took to land.

– Plutarkhos, Symp. Quaest., 730 f. Terjemahan diambil dari J. Burnet, Early Greek Philosophy, London, 1945, hlm. 70-71.

Catatan: Terkait sumber buku dan fragmen dari Sang Filsuf Udara Pertama atau filsuf masa prasokrates akan saya bahas lain kali.

Pandangan Geografi

Prinsip to apeiron yang diciptakan Anaximandros membangun pandangannya sendiri tentang alam semesta. Setelah adanya aperion, maka muncullah konsep perceraian. Yang panas menutup yang dingin. Berarti sifat dingin itu terkandung di yang panas. Dari yang dingin itu terjadilah yang cair. Cair berubah menjadi beku. Dan dari beku inilah, dunia atau bumi menjadi.

Api atau yang panas yang menutupi yang dingin tadi juga ikut terbagi-bagi atau mengalami perceraian. Perceraian-perceraian tersebut berputar-putar kemudian terpisah-pisah sehingga terciptalah matahari, bulan, dan bintang-bintang. Bumi dikatakan berbentuk silinder, yang lebarnya tiga kali lebih besar dari tingginya. Bumi tidak jatuh karena kedudukannya berada pada pusat jagad raya, dengan jarak yang sama dengan semua benda lain.

Pandangannya itu membuatnya mengkritik gurunya, Thales, yang berpendapat bahwa bumi diselimuti atau dikelilingi lautan. Tapi Anaximandros Sang Filsuf Udara Pertama menyatakan bahwa bumi pada awalnya dibalut oleh udara yang basah, bukan lautan. Karena mustahil bumi atau dunia berawal dari yang tampak. Lalu karena udara yang basah itu berputar terus-menerus, maka lama-lama bumi menjadi kering. Akhirnya, tinggalah udara yang basah itu sebagai laut pada bumi.

Mungkin konsep itu kini bisa dikatakan sebagai konsep pemuaian. Di mana udara yang dipanaskan menghasilkan uap, dan uap akan menghasilkan air. Lalu air itu memadat, dan menjadi tanah. Bisa diterima logika berpikir dari Anaximandros? Saya bisa. Menarik kan bagaimana pemikiran filsuf Yunani, apalagi yang pra-Socrates.

Pandangan Astronomi

Menurut Anaximandros Sang Filsuf Udara Pertama, bumi berada di tengah- tengah alam semesta ini. Bumi berbentuk lingkaran. Di sekitaran bumi juga dikelilingi oleh cincin atau selang yang berisi api. Lalu selang itu berlubang. Sehingga, apinya keluar dan merubah udara-udara di bumi hingga menjadi tanah (Prinsip Perceraian) (lihat gambar di bawah ini).

Kosmologi Anaximandros. Sumber gambar Wikipedia

Dari lobang-lobang itulah, kita bisa melihat bintang-bintang, bulan dan matahari. Konsep lain yang diajukan oleh Anaximandros adalah bahwa alam semesta beraturan. Meskipun penampakan bintang-bintang di langit tidak beraturan, termasuk juga bentuk bulan dan laju gerak matahari, tapi Anaximandros menekankan pentingnya keteraturan alam semesta. Karenanya, ia berprinsip awal, bahwa bumi atau dunia tidak bergerak.

Referensi Anaximandros Sang Filsuf Udara Pertama

Bertens, K. 1979. Sejarah Filsafat Yunani, Jakarta: Penerbit Kanisius

Hatta, M.1980. Alam Pikiran Yunani, Jakarta: Penerbit Tintamas

Russell, Bertrand. 2007. Sejarah Filsafat Barat, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Wibowo, Setyo. 2009. Diktat Kuliah Sejarah Filsafat Yunani. STF DRIYARKARA, Jakarta.

Simon Petrus L. Tjahjadi. 2004. Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius.

bacatulis

Recent Posts

Membaca adalah Belajar Menghadapi Tantangan

Membaca adalah belajar menghadapi tantangan. Pertimbangan lain, ketika melihat anak-anak di sekolah dan di luar…

9 months ago

Pentingnya Waktu Membaca Bagi Anak-anak

Pentingnya waktu untuk membaca bagi anak-anak, mudahnya, dikarenakan dua hal: pertama, membaca merupakan keterampilan akademis…

9 months ago

Membaca Itu Mengajari Diri Sendiri

Membaca itu mengajari diri sendiri karena berhubungan dengan penguasaan kosakata. Salah satu artikel dari eric.ed.gov…

9 months ago

Pentingnya Keterampilan Membaca Bagi Anak

Sedang nikmat-nikmatnya ngudut di warung, tiba-tiba datang seorang kawan lama duduk di depanku dan tanpa…

9 months ago

Bahasa Sebagai Bentuk Isi-Ekspresi Sekaligus

Bahasa sebagai bentuk isi-ekspresi sekaligus (BD) merupakan perpaduan antara bahasa sebagai bentuk – isi dan…

10 months ago

Bahasa Sebagai Bentuk (Isi dan Ekspresi)

Bahasa sebagai bentuk mulai terkenal pada pertengahan pertama abad 20. Para linguis mulai banyak beralih…

10 months ago