Categories: EsaiPuisiSastraTulis

Namaku Athena: Bagian I-II (Mengagumi Yunani Kuno)

Namaku Athena ini merupakan puisi yang saya tulis sebagai bentuk kekaguman saya pada peradabadan Yunani kuno. Sebenarnya saya ingin menuliskannya dalam bentuk narasi, tapi terasa kurang mengena. Akhinya, saya putuskan untuk membuat puisi dengan beberapa catatan. Sehingga, antara puisi dan narasi bisa beringingan tapi bisa dipisahkan. Berikut puisi Namaku Athena Bagian I dan II:

I

 Duniaku sepotong mite; Merasuk 
 menembus insan. Hanya menjadi: tak ada bicara pun kata.
 Homerus brojol bersma Odysseus menunggang kuda.
 Menyusul Sang Orfis di seberang sana.
             Sang-kata: nongol
       Geometria: menjulur
 seluruhnya adalah cinta panna
 mite berjalan mencari teman: akal budi
 ia tak lagi sendiri
 berdua mengarungi samudera indera
 Lalu, dengan lancang Sang-teman menunggangi:
 pelangi tak lagi indah karena dewa; tapi indera
 mereka berpisah; dan,
 apalah yang lebih indah dari perpisahan mereka? 

II

 Namaku Athena, dikara dalam semesta:
       bangunan megah; patung mempesona; panorama raya;
       agung dan manis.
 Aku dicipta,
 Aku ditata,
 Oleh yang bernama: 
         polis: penguasa demokrasi; pembenci monopoli
 “Kami tahu, kemerdekaan!” ujarnya.
 Namun, tetap saja: tiranipegari
       adalah seakan pasti, bahwa: 
       durjana selalu merupa, barang- 
       sepintas saja.

Catatan Namaku Athena

Tentang Homeros

Homeros dikenal sebagai penggubah (epos) Yunani penting Illiad dan Odyssey. Tapi menurut para ahli, ia tak hanya menuliskan kedua epos tersebut. Ada yang menyebutkan bahwa ia juga menulis Batrakhomiomakchia (Peperangan katak-tikus) sebuah komedi epik, korpus Himne Homeros, dan sebagainya. Dari nama Homeroslah, kini banyak orang mengenal kisah Perang Troya dan kisah Oedipus dan anaknya. Desas-desus mengatakan, bahwa ia buta. Tapi entahlah, bahkan tempat kelahirannya pun masih sulit diketahui pastinya.

Tentang Illiad dan Odysseus

Illiad

Buku Illiad adalah karangan yang lebih awal dari Odysseia. Illiad ditulis ketika Perang Troya telah memasuki tahun ke sembilan, dan tentara Yunani belum memasuki kota Troya. Dan berakhir pada saat Hector, sang pahlawan telah tewas terbunuh. Secara singkat, Illiad menceritakan bagaiman kisah Agamemnon sebagai panglima tertinggi tentara gabungan untuk menyerang Troya. Namun kemudian ia mati di tangan permaisurinya, Clytemnestera, sendiri yang telah selingkuh.

Perang Troya versi Gramedia Pustaka

Ada banyak buku dengan beragam versi tentang cerita ini. Misalnya buku Perang Troya versi Gramedia Pustaka, yang diterjemahkan dari La Guerra Di Troia. Adaptasi dari versi asli dilakukan oleh Stelio Martelli. Buku dari gramedia cocok untuk anak-anak karena ada ilustrasinya. Ada juga versi Indigo Media, yang ditulis oleh Asep Rahmatullah. Ia menggabungkan berbagai sumber termasuk Odysseus ke dalam bukunya. Atau mungkin versi Laksana yang ditulis oleh Zainal Fanani. Gubahan Fanani lebih cocok untuk dibaca oleh kalanga SMA, karena nuansanya novel.

(Update: Setelah saya cek website Pustaka Indigo, ternyata ada banyak buku yang menceritakan tentang legenda dari Homerus dan legenda Yunani lainnya)

Selain itu, jika sedang malas membaca, sudah banyak juga yang membuat film tentang ini: dulu ada Helen of Troy tayang di TVRI, atau mungkin yang paling populer film Troy (2004) yang dibintangi oleh Brad Pit sebagai lakon utama, Achilles.

Odysseia

Sementara Odysseia adalah lanjutan kisah dari Illiad. Untuk Odysseia, dalam bahasa Indonesia saya hanya tahu buku The Odyssey of Homer yang saya pinjam di perpustakaan. Buku itu terjemahan dari karya Homerus gubahan W.H.D. Rouse, dan diterbitkan oleh Oncor Semesta Publisher tahun 2011. Secara singkat ceritanya sebagai berikut:

Odysseus, raja Itacha, adalah satu-satunya panglima yang belum pulang setelah perang Troya. Ia terjebak di pulau terpencil yang didiami Calypso, putri Atlas, dan Calypso jatuh cinta pada Odysseus. Ia ingin menjadikannya suami. Namun Zeus yang menuruti keingnan putrinya, Athena, mengirimkan Hermes (sang pembawa pesan) pada Calypso untuk membebaskan Odysseus. Perjalanan pulangnya ke Itacha tidak semudah yang ia kira, sementara saat itu di Itacha banyak manusia jahat yang ingin merebut hati Penelopia, permaisuri Odysseus.

Setelah 20 tahun Odysseus akhirnya tiba di Itacha. Dia menyamar sebagai pengemis karena banyak orang jahat mau membunuhnya untuk mencuri takhta dan hadiah yang ia kumpulkan dari perjalanan pulangnya, dengan bantuan Athena. Ia menuju gubuk Eumaios, sahabat dan pembantunya yang setia menernak babinya. Kemudia, Penelopia mengadakan sayembara memanah untuk menentukan siapa pengganti Odysseus.

Odysseus yang menyamar sebagai pengemis, berhasil memenangkan sayembara itu. Dan ia pun berhasil mengembalikan kerajaannya seperti sedia kala. Bahagia bersama istri dan anaknya, Telemachos. Odysseia, seperti juga Illiad, bak kitab suci orang Yunani.

Sang Orfis

Sang Orfis tak lain adalah Hesiodos. K. Bertens (1979:15) menceritakan Hesiodos yang menulis syair Kejadian-kejadian Allah, 750 SM. Syair-syairnya berisi tentang kumpulan-kumpulan mite Yunani Kuno. Theohonia menceritakan tentang asal-usul para dewa. Ia membawa kisah-kisah dari Babilonia, Elnuma Elis terkait dengan kisah Kumarbi dari Het. Zeus, Poseidon, dan Demerer adalah nama ciptaanya.

Bertens juga menambahkan, Hesiodos juga menulis Erga kai Hemerai yang berarti Karya dan Hari-hari. Dalam Erga kai Hemerai, Hesiodos menuliskan nasihat-nasihat dalam menjalani hidup, sebuah khotbah yang menentang ketidakjujuran, kemalasan dan mental korup dalam masyarakat dan pemerintahan di masanya. Ia juga menceritakan mengenai bunga pinjaman adalah perilaku yang buruk, serta wanita tidak dapat dipercaya. Dalam karya ini juga sepertinya Hesiodos mengambilnya dari daerah Asia Barat.

Kumpulan mite-mite lainnya terdapat dalam lingkaran orfisme, suatu aliran religius yang konon didirikan oleh penyair Orpheus. Dan juga boleh disebut di sini kumpulan mite-mite yang dikarang oleh Pherekydes dari Syros yang berangka sekitar tahun 550 S.M. Aristoteles menamai orang-orang seperti Hesiodos dan Pherekydes dengan gelar Theologoi (teolog-teolog) dan membedakan mereka dengan filsuf-filsuf yang pertama.

Namaku Athena

Athena pada awalnya adalah seorang Dewi, putri Zeus. Namun kemudian Athena menjadi sebuah nama kota di Yunani. Dan kemudian menjadi pusat kota dan peradaban Yunani. Di Yunani itulah, banyak orang menyebutnya sebagai polis. Secara bahasa, polis dalam bahasa Indonesia adalah “Kota”. Polites adalah sebuah warga polis.

Namun polis pada saat itu memiliki hak untuk berdebat dan hak untuk memberikan suara, suatu keputusan yang dapat mempengaruhi hidupnya dan hidup di kotanya. Polis saat itu juga berarti kota/Negara yang berdaulat dalam makna modern sepenuhnya. Dalam karya Homerus, kata polis digunakan untuk kota Troya, tapi penduduknya di berinama politai.

Polis dan Tyrannos

Meskipun di perintah oleh raja Priamus dan Permaisuri Hecuba, hal itu bisa saja dikatakan bahwa politai berarti penduduk kota, bukan warga kota (polis). Akan berbeda juga ketika polis diartikan oleh Aristoteles dalam Politica. Menurut Aristoteles, polis muncul secara alami, lahir dari sifat dasar manusia. Polis sangat berhubungan dengan keadilan. “polis bergonta-ganti diperintah dan memerintah.”

[vii]Sepanjang sejarah polis tidak jarang terjadi bahwa pemerintahan jatuh dalam tangan satu orang. Nama yang diberikan oleh orang Yunani padanya adalah Tyrannos. Tetapi bagi mereka nama ini belum mempunyai arti kurang baik seperti nama “tiran” (Inggris: Tyrant) dalam bahasa-bahasa modern: seorang yang lalim.

Yang penting ialah bahwa tyrannos sebagai penguasa juga tergantung pada hukum dan tidak dapat bertindak sembarangan. Karenanya perbedaan dengan kerajaan timur tetap ada. Dan boleh ditambah lagi bahwa pemerintahan seorang tyrannos biasanya tidak tahan lama. (K. Bertens, 1979: 21).

Daftar Rujukan Namaku Athena I dan II

K. Berteens, 1979. Sejarah Filsafat Yunani, Yogyakarta: Kanisius. edisi ke-2.

Asep Rahmatullah, 2015. Legenda Perang Troya. Yogyakarta, Indigo Media.

Stelio Marteli, 2005. Perang Troya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Zaenal Fanani, 2010. Troy. Yogyakarta: Laksana.

bacatulis

Recent Posts

Membaca adalah Belajar Menghadapi Tantangan

Membaca adalah belajar menghadapi tantangan. Pertimbangan lain, ketika melihat anak-anak di sekolah dan di luar…

9 months ago

Pentingnya Waktu Membaca Bagi Anak-anak

Pentingnya waktu untuk membaca bagi anak-anak, mudahnya, dikarenakan dua hal: pertama, membaca merupakan keterampilan akademis…

9 months ago

Membaca Itu Mengajari Diri Sendiri

Membaca itu mengajari diri sendiri karena berhubungan dengan penguasaan kosakata. Salah satu artikel dari eric.ed.gov…

9 months ago

Pentingnya Keterampilan Membaca Bagi Anak

Sedang nikmat-nikmatnya ngudut di warung, tiba-tiba datang seorang kawan lama duduk di depanku dan tanpa…

9 months ago

Bahasa Sebagai Bentuk Isi-Ekspresi Sekaligus

Bahasa sebagai bentuk isi-ekspresi sekaligus (BD) merupakan perpaduan antara bahasa sebagai bentuk – isi dan…

10 months ago

Bahasa Sebagai Bentuk (Isi dan Ekspresi)

Bahasa sebagai bentuk mulai terkenal pada pertengahan pertama abad 20. Para linguis mulai banyak beralih…

10 months ago