Categories: EsaiIlmu Bahasa

Bahasa dan Konsep Ilmu Pengetahuan

Bahasa dan konsep ilmu pengetahuan perlu dijelaskan mengingat pentingnya menguji validitas teori bahasa. Selain bergantung pada hubungannya dengan manusia, ia juga bergantung pada jenis ilmu pengetahuan yang diwakilinya.

Bahasa dan Konsep Ilmu Pengetahuan

Mengikuti kerja dari filsafat, untuk memperoleh pengetahuan bisa dilakukan dengan dua cara: apakah pengetahuan yang diperoleh melalui panca indra atau pengetahuan yang diperoleh melalui intuisi ilmiah.

Dengan demikian, suatu teori bahasa agar bisa diterima secara ‘ilmiah’ setidaknya memerlukan dua syarat: 1) bahasa harus dideskripsi melalui pengamatan dan klasifikasi fakta-fakta (pendekatan induktif); atau 2) melalui intuisi dan konstruksi suatu model darimana fakta-fakta yang memenuhi syarat bisa disimpulkan (pendekatan deduktif).

Bahasa dan Konsep Ilmu Pengetahuan

Pendekatan Induktif

Sebermula fakta linguistis

Menurut pendekatan ini, teori bahasa yang dapat dianggap valid atau sahih adalah teori yang diperoleh dari pengamatan fakta-fakta linguistis. Setelah fakta linguistis itu terkumpul, dilakukan klasifikasi dan generalisasi. Cara ini merupakan peniruan dari pendekatan yang digunakan dalam pengamatan ilmu-ilmu pengetahuan.

Linguis harus mencari modal atau pola suatu bahasa, lalu menyelidikinya, dan berujung pada usaha mengklasifikasi perbedaan perbedaannya. Meskipun linguis melakukan hal itu hanya untuk sebagian kecil model atau pola suatu bahasa pada satu kasus yang muncul, linguis pada akhirnya akan membuat generalisasi tentang apa yang telah diselidiki.

Tidak hanya itu, ia juga akan menerapkan teori tersebut pada hal yang belum diamati, dengan berasumsi bahwa sampel yang telah dibuatnya telah memuat segala sesuatu yang dianggap penting. Pendekatan ini mirip seperti pendekatan kaum positifis, yang suka sekali melakukan generalisasi.

Bahasa dan konsep ilmu pengetahuan: Generalisasi

Kemudian, ketika telah sampai pada pengetahuan bahasa melalui penyelidikan bergaya induktif, secara teori linguis tidak lagi membutuhkan pengetahuan bahasa yang telah digambarkan sebelumnya. Karena itu akan sia-sia. Mungkin masalahnya adalah terkait pengumpulan sampel bahasa dari penutur aslinya dan kemudian memecahkan kaidah-kaidah yang ada di dalamnya. Penyelesaian masalah ini tersebut akan lebih mudah dilakukan dengan melihat ahli kriptografi.

Oleh karena itu teori semacam ini dapat menghasilkan teknik dan prosedur analisis bahasa yang sama untuk semua bahasa yang dianalisis. Setiap orang yang sudah terbiasa dengan prosedur ini mampu menyusun tata bahasa dari bahasa apa saja di mana dia dapat memperoleh jumlah sampel yang dianggap cukup. Pendekatan ini berdasarkan kepercayaan bahwa hanya fakta-fakta yang dapat dibuktikan oleh indera sajalah yang memiliki validitas ilmiah.

Dengan melakukan generalisasi, maka teori bahasa dengan pendekatan induktif menekankan pada ciri-ciri bahasa yang mudah untuk diamati dan diklasifikasi (fakta linguis). Misalnyaciri-ciri fonologis bahasa bunyi dan pola bunyi. prosedur deskriptif seperti itu antara lain dikemukakan oleh Z.S Harris.

Pada aspek morfologi kita merujuk pada Pak Poedjosoedarmo dengan teori kelas katanya. Atau pada aspek sintaksis kita mengenal teori struktur sintaksis-nya Chomsky yang merupakan murid Harris (Sebagai pengantar, silahkan membaca tulisan dari AC Setiadi PENGAJARAN BAHASA DENGAN PENDEKATAN KOMUNIKATIF). Atau bisa juga kita merujuk pada Pike Bersaudara terkait teori tagmemetiknya.

Pendekatan Deduktif

Sebermula adalah pola

Bila ada linguis yang menyusun teori bahasa dengan pendekatan induktif menirukan ilmu observasi, maka ada juga linguis yang yang menganut pendekatan deduktif mengikuti ilmu teoritis dalam menyusun teori bahasa. Linguis yang lebih mengedepankan pendekatan deduktif, menyusun teori bahasanya dengan mengambil pola teoritis dari suatu fenomena, lalu mengujinya untuk mengetahui sampai seberapa banyak dan seberapa jauh teorinya dapat mengambil kesimpulan akan fakta bahasa.

Menciptakan suatu pola yang baik akan suatu teori merupakan intuisi ilmiah. Hal ini dikerjakan dengan jalan menjelaskan hukum-hukum yang secara tak disadari telah dimiliki oleh penutur bahasa; hal ini merupakan pengkodifikasian dari pengertian intuitif seseorang mengenai struktur bahasa itu.

Dengan demikian, adalah suatu keharusan bagi seorang yang ingin memuat ilmu bahasa dengan pendekatan deduktif untuk menguasai bahasa yang akan dideskripsikannya. Jika tidak, maka teori akan segera runtuh karena tidak mampu memahami fakta bahasa.

Bahasa dan konsep ilmu pengetahuan: Generatif

Prinsipnya, dalam suatu bahasa jumlah dan variasi ujaran tidak terbatas. Oleh karena itu sulit membayangkan untuk mendeskripsikan seluruhnya. Dalam kondisi yang demikian, para linguis penganut pendekatan deduktif menyusun suatu teori yang memungkinkan untuk menjelaskan fakta-fakta yang tidak terbatas itu. Di sinilah letak pentingnya deduktif. Capek juga kalau menganalisis satu per satu bahasa di dunia.

Teori deduktif yang dianggap paling baik adalah teori yang bisa memberikan gambaran untuk sebagian besar lainnya yang belum diketahui. Deskripsi bahasa dan metode pengajaran bahasa yang didasarkan pada teori ini menekankan pada pola-pola yang terbanyak dipakai dalam suatu bahasa.

Misalnya, yang paling mudah bisa kita lihat teori kalimat verba dan kalimat nomina. Hampir semua bahasa di dunia memiliki pola yang hampir sama. Namun yang sulit adalah membuat jenis kata dan menjelaskan hubungan sintaksisnya.

Di level yang lebih tinggi, mungkin kita bisa menyebut Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf tentang teori (atau hipotesa) determinasi bahasanya. Contoh lain yang menggunakan pendekatan induktif adalah teori yang disuguhkan oleh Gustave Guillaume tentang teori semantiknya yang bersifat generatif, juga hubungan antara bahasa dan hubungannya dengan proses mental.

Catatan

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan saya sebelumnya, Bahasa dan Konsep Tentang Manusia yang mana, tulisan itu juga merupakan bagian dari tulisan Kategorisasi Teori-teori Bahasa: Latar Belakang. Tulisan-tulisan itu tak lain merupakan satu ulasan saya terkait kekhawatiran pribadi saya akan sulitnya mengajarkan dan menerjemahkan bahasa.

Sekali lagi saya tekankan, bahwa tulisan ini adalah tulisan awal, yang berfungsi sebagai pendahuluan atau konsep awal. Pada tahap selanjutnya, mungkin akan ada banyak kata-kata atau frasa yang bertaut dengan halaman lain sebagai penjelasan, baik itu tautan dari web ini maupun di luar.

bacatulis

Recent Posts

Membaca adalah Belajar Menghadapi Tantangan

Membaca adalah belajar menghadapi tantangan. Pertimbangan lain, ketika melihat anak-anak di sekolah dan di luar…

9 months ago

Pentingnya Waktu Membaca Bagi Anak-anak

Pentingnya waktu untuk membaca bagi anak-anak, mudahnya, dikarenakan dua hal: pertama, membaca merupakan keterampilan akademis…

9 months ago

Membaca Itu Mengajari Diri Sendiri

Membaca itu mengajari diri sendiri karena berhubungan dengan penguasaan kosakata. Salah satu artikel dari eric.ed.gov…

9 months ago

Pentingnya Keterampilan Membaca Bagi Anak

Sedang nikmat-nikmatnya ngudut di warung, tiba-tiba datang seorang kawan lama duduk di depanku dan tanpa…

9 months ago

Bahasa Sebagai Bentuk Isi-Ekspresi Sekaligus

Bahasa sebagai bentuk isi-ekspresi sekaligus (BD) merupakan perpaduan antara bahasa sebagai bentuk – isi dan…

10 months ago

Bahasa Sebagai Bentuk (Isi dan Ekspresi)

Bahasa sebagai bentuk mulai terkenal pada pertengahan pertama abad 20. Para linguis mulai banyak beralih…

10 months ago