Categories: Ilmu BahasaNonsastra

Pendekar Bahasa: Ulasan Buku Karya Holy Adib

Pendekar bahasa merupakan seorang memberikan sumbangan pikiran terhadap bahasa dengan hanya bermodalkan kepeduliannya pada bahasa. Ia bukan hidup dalam lingkarap lingusik, tapi apa yang mereka lakukan sangat penting bagi linguistik.

Purbo-Hadiwijoyo misalnya. Ia membuat Kamus Geologi dan Ranah Rinangkun dalam Bahasa Inggris-Indonesia dan Indonesia Inggris. Linguis akan kesulitan jika membuat kamus-kamus seperti itu.  Data bahasa yang dibuat oleh linguis dalam bidang geologi tidak akan selengkap dan sekuat yang dilukan oleh Purbo-Hadiwijoyo.

Pendahuluan

Awalnya saya mengira buku Pendekar Bahasa merupakan buku kumpulan cerita atau biografi linguis. Ternyata tidak. Buku itu melebihi ekspektasi saya. Ia menceritakan suatu hal yang lebih penting: persoalan-persoalan bahasa di masa kiwari.

Karena itu, sesegera mungkin saya ingin mengulas buku itu setelah buku sampai di tangan saya. Karena saya yakin, setelah membaca Buku Pendekar Bahasa karya Holy Adib, akan membuat Anda kembali mempertanyakan bagaimana sikap Anda terhadap bahasa Indonesia. Untuk detil penulis, silahkan mengunjungi profilnya di situs Beritagar.id.

Pendekar Bahasa

Penulis: Holy Adib

Kata Pengantar: Eko Endarmoko

Editor : Eva Sri Rahayu

Pemeriksa Aksara: Aris Rahman P. Putra

Tata Sampul: Fitriana Hadi

Tata Isi: Vitriya

Pracetak: Kiki

Cetakan pertama: November, 2019

Jumlah Halaman: 176 halaman

Ukuran : 14×20 cm

Penerbit: Basabasi

Ulasan

Ada tiga poin yang menjadikan buku ini menarik bagi saya: Apa yang dibahas, cara menelaah, dan bahasa yang mudah dimengerti tapi kaya akan isi.

Kover Pendekar Bahasa

Apa yang dibahas

Pertama, apa yang dibahas dalam buku Pendekar Bahasa adalah perihal penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari. Mulai dari yang receh-receh seperti kata jomlo, caleg dan pileg, orang tua atau orangtua, dan sebagainya, sampai yang agak fatal seperti memolisikan, pimpinan dan pemimpin.

Ternyata, tanpa disadari, banya kosakata yang saya sendiri sering salah kaprah. Karena itu, setiap selesai membaca satu artikel, kadang ada efek tertawa kecut. Sambil menggumam, “Ternyata~.” Belum lagi persoalan penggunaan padanan kata dan sindirannya akan integritas nasionalisme kita dalam berbahasa.

Bahasa yang Mudah Dimengerti

Kedua, bahasa yang digunakan mudah dimengerti. Di samping itu, penulis banyak menyertakan bergam data dan referensi dari suhu-nya. Hingga cah linguis, ketika membaca buku ini akan merasakan kesan keseriusan penulis dalam membahas permasalahan-permasalan bahasa. Jadi, bahasanya renyah dan kaya. Inilah yang kemudian membuat buku itu ujug-ujug habis terbaca.

Di samping itu, di buku ini juga terdapat daftar pustaka dan indeks. Dua hal itu menunjukkan bahwa penulis serius dalam menerbitkan bunga rampai esai bahasanya dalam buku Pendekar Bahasa.

Cara Menelaah dalam Pendekar Bahasa

Ketiga, ini yang paling menarik, cara menelaah bahasa. Ada banyak cara dalam membahas sebuah bahasa: formal maupun nonformal. Mungkin yang paling poluler adalah dengan melihat kamus. Ketika di kamus ada, berarti kata itu baku. Atau mencari padanannya. Atau ketika tidak menemukan padanannya, ditulis miring.  Atau bisa juga melihat korpus. Cara populer mudah dan simple lainnya, tanya Uda Ivan Lanin.

Tapi Holy Adib tidak. Ia lebih memilih melihat permasalahan bahasa itu dengan menelusuri sejarahnya. Menurut saya, ini nyenengne tenan. Saya menduga, mungkinkah ini yang dinamakan telaah diakronis?

Membaca buku itu membuat saya jadi teringat Saussure akan dikotomi sinkronik dan diakronik. Menelaah secara sinkronik berarti menelaah bahasa sebaiknya seperti melihat permainan catur. Agar telaah bahasa itu tepat, sebaiknya melihat bagaimana bidak-bidak catur itu berhubungan pada langkah kesekian. Bukan melihatnya dari langkah sejak awal atau diakronik. Lha iya, buat apa juga melihat langkah sebelumnya? Toh, tidak boleh undo juga.

Tapi tulisan Holy Adib yang melihat bahasa secara diakronik, ternyata lebih menyenangkan. Misalnya saja ketika Holy Adib menelaah kata Anda. Penulis menelaah penggunaan dan fungsi kata tersebut sejak tahun 1950-an. Kata itu bersaing dengan kata ananda, andika dan anakda.

Atau akronim caleg dan pileg yang ditelaah penulis dengan cara yang sama, hingga ia beranggapan kemunculan kedua akronim itu muncul pertama kali di tahun 2004. Dan hampir semua tema atau kata yang dibahas selalu ada bagian asal-usulnya. Tidak hanya satu dua.

Hikmah Membaca Pendekar bahasa

Hikmah setelah membaca buku Pendekar Bahasa adalah menyadarkan bagaimana sikap kita dalam berbahasa Indonesia. Sikap itu ada dua: pertama, semangat dalam hal mencari padanan kata; dan kedua, semangat dalam mempopulerkan padanan itu. Kata-kata seperti unggah, copot pemasangan, beranda, utas dan sebagainya bisa kita populerkan.

Dua semangat itu penting terutama jika berhubungan dengan ilmu pengetahuan. Misalnya dalam ilmu arsitektur, kata landmark bisa kita padankan dengan tengaran. Yang paling sering, launching. Akan lebih baik kalau dipadankan dengan peluncuran. Di situlah, pendekar bahasa berperan: seorang yang menggeluti bidang di luar bahasa, tapi memberikan sumbangsih pada bahasa.

Catatan:

Namun di samping itu semua, setidaknya ada dua catatan perihal buku Pendekar Bahasa. Pertama, terkait pembagian tema atau bagian buku. Di beberapa buku kumpulan esai atau opini, biasanya penulis akan memberikan beberapa alasan atau pengertian mengapa penulis menyusunnya per bab dibanding menyusunnya secara kronologis.

Dalam kata pengatar yang di tulis Eko Endarmoko tidak menyebutkan hal itu. Pada poin ini biasanya penulis setidaknya menuliskan alasan pengumpulan tulisan atau semacam panduan membaca dan memahami buku.

Kedua, tata letak atau tata isi. Ini mungkin berhubungan dengan penerbit. Persoalan teknis. Mungkin sepele, namun bagi saya ini agak unik. Biasanya dalam buku-buku dibagi menjadi halaman isi dan halaman awal. Tapi di beberapa buku terbitan Basabasi atau Divapress, menyatukannya. Jadi tidak ada angka romawi. Dan mungkin yang menjadi pertanyaan saya, kenapa setelah bagian Daftar Pustaka diisi Biodata Penulis kemudian Indeks? Dan mungkin juga, kenapa Sumber Tulisan menjadi bagian dari bab atau bagian “Makna Kata”?

Ketiga, mungkin ini subjektif, kenapa penulis menggunakan nama pena “Holy”? (He He He) Bukankah sudah ada padanannya? Atau mungkin itu nama asli? Tapi ya kata Shakespear, apalah arti sebuah nama?

Kesimpulan

Secara umum, buku Pendekar Bahasa cocok untuk dibaca bagi yang peduli terhadap bahasa Indonesia. Pemerintah, guru, dan para ilmuan disarankan juga untuk membaca buku ini. Secara khusus, untuk penulis, editor, penyunting, dan mahasiswa saya sangat merekomendasikan membaca buku ini.

bacatulis

Recent Posts

Membaca adalah Belajar Menghadapi Tantangan

Membaca adalah belajar menghadapi tantangan. Pertimbangan lain, ketika melihat anak-anak di sekolah dan di luar…

9 months ago

Pentingnya Waktu Membaca Bagi Anak-anak

Pentingnya waktu untuk membaca bagi anak-anak, mudahnya, dikarenakan dua hal: pertama, membaca merupakan keterampilan akademis…

9 months ago

Membaca Itu Mengajari Diri Sendiri

Membaca itu mengajari diri sendiri karena berhubungan dengan penguasaan kosakata. Salah satu artikel dari eric.ed.gov…

9 months ago

Pentingnya Keterampilan Membaca Bagi Anak

Sedang nikmat-nikmatnya ngudut di warung, tiba-tiba datang seorang kawan lama duduk di depanku dan tanpa…

9 months ago

Bahasa Sebagai Bentuk Isi-Ekspresi Sekaligus

Bahasa sebagai bentuk isi-ekspresi sekaligus (BD) merupakan perpaduan antara bahasa sebagai bentuk – isi dan…

10 months ago

Bahasa Sebagai Bentuk (Isi dan Ekspresi)

Bahasa sebagai bentuk mulai terkenal pada pertengahan pertama abad 20. Para linguis mulai banyak beralih…

10 months ago