Categories: EsaiIlmu Bahasa

Realitas Teori Bahasa: Konsep Manusia dan Ilmu Pengetahuan

Realitas teori bahasa dalam tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran tentang pengertian, landasan filosofis, problematika, dan cara pemerolehan teori bahasa dari para ahli. Gambaran itu merupakan langkah awal untuk mempermudah dalam melakukan kategorisasi teori bahasa. Dalam menggambarkan realitas teori-teori bahasa itu setidaknya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang keberadaan teori bahasa itu.

Pertanyaan-pertanyaan itu setidaknya berupa: Bagaimana teori bahasa itu mendefinisikan bahasa? Tergolong dalam cabang ilmu studi apa? Bagaimana problematika teori bahasa itu? Bagaimana teori bahasa itu diperoleh? dan Bagaimana ontologiteori bahasa itu?

Pertanyaan-pertanyaan itu sewajarnya selalu ada dalam setiap teori bahasa, atau bahkan teori pada umumnya. Hal itu itu karena memang pada dasarnya pertanyaan-pertanyaan itu tercermin dalam dasar filsafat dan ilmu pengetahuan.

Tulisan ini merupakan bagian dari tulisan sebelumnya, Kategorisasi Teori-teori Bahasa: Latar Belakang.

Realitas teori bahasa

Bahasa Sebagai Alat Memeriksa Logika Pernyataan

Di abad 20, beberapa filsuf mendasarkan dasar filsafatnya pada analisis bahasa, Russel (1872-1970). Nama Russel dikenal sebagai seorang tokoh yang bergelut dalam persoalan-persoalan filsafat. Selain filsafat, ia juga dikenal mendekati permasalahan politik, agama, sejarah, pendidikan dan moral. Namun jika kita telusuri, sumbangsih terbesar dari Russel adalah dalam bidang matematika bahasa. Karena dari situ, ia mendapatkan cara untuk mendekati logika — yang menjadi dasar penting dalam filsafat.

Bagi Russel, bahasa merupakan modus operandi termudah dalam menunjukkan keberadaan manusia di dunia: Kita berpikir menggunakan bahasa, mengungkapkannya dengan bahasa, mendeskripsikan apa yang kita lihat, kita rasa juga dengan bahasa.

Bagi Russel, rumusnya: Penyataan logis tercermin dari bahasa logis. Ketika sebuah pernyataan diungkapkan menggunakan bahasa yang salah, makan pernyataan itu salah. Rumus inilah yang menjadi dasar filsafat dan pemikirannya. Dari rumus itu, ia kemudian membenturkan logika pernyataan dengan matematika, terutama dalam teori himpunan.

Lihat misalnya pemikirannya tentang logika himpunan, yang terkenal dengan barber’s paradox. Untuk penjelasan ini silahkan membaca Jurnal dari Alice Mayor tentang Barber’s Paradox dan hubungannya dengan Puisi. Atau ulasan pemikiran Russel tentang bahasa matematika di sini).

Filsuf yang mendasarkan filsafatnya pada analisa bahasa tidak hanya Russel saja. Para filsuf posmodern seperti Derrida, Foucault, Baudrillard, dan sebagainya juga mendasarkan filsafatnya pada analisis bahasa.

Bahasa Sebagai Bentuk Mental

Jika Wittgenstein (1889-1951) mendasarkan filsafatnya berdasarkan analisis bahasa sehari-hari dan pada studi tentang fungsi kata-kata, maka Ernst Cassier lebih mendasarkan filsafatnya berdasarkan bahasa sebagai bentuk mental yang berdiri sendiri. Bahasa sebagai bentuk mental dalam pandangan Cassier terlihat dari pemisahannya akan persoalan bahasa adalah satu hal, dan agama lain hal.

Cassier beranggapan sifat dari bahasa yang merupakan bentuk mental itulah yang membuat bahasa tidak dapat dipahami melalui konsep konsep atau metode-metode ilmu pengetahuan yang lain.

Banyak filsuf yang menganggap eksistensi bahasa itu sebagai bukti bahwa metafisika dan etika dapat mempunyai arti. Namun Carnap menolak pendapat ini. Carnap berpendapat bahwa metafisika dan etika itu tidak dapat terbuka terhadap analisis yang logis yang didasarkan nya pada analisis atau rekonstruksi sintaksis. Dengan demikian, Carnap dan juga Cassier menolak anggapan dari Russel.

Bagi Carnap, tugas yang pantas bagi filsafat adalah analisis yang logis. Filsafat menjadi logika dan logika menjadi filsafat.

Filsafat dan Bahasa

Dasar filsafat pada analisis bahasa merupakan suatu hal tersendiri. Ada yang beranggapan bahwa filsafat adalah satu hal bahasa juga satu hal. Tidak bisa digabung. Namun ada juga yang beranggapan bahwa filsafat dan bahasa tidak bisa dipisahkan.

Di samping itu, ketika filsuf memusatkan pemikirannya pada filsafat saja, produk pemikirannya akan berbeda dengan produk filsuf yang mencampurkan pemikirannya pada filsafat dan bahasa. Masing-masing menggunakan alat bahasa dan logika yang tidak sama. Mungkin nama Martin Suryajaya bisa disebut di sini. Sebagai filsuf, Suryajaya banyak mengkritisi pemikiran posmodern yang banyak mendasarkan filsafatnya pada bahasa, terutama Derrida.

Di samping itu semua, meskipun filsafat dan bahasa sama-sama menggunakan logika formal, namun keduanya menggunakan dengan tujuan yang berbeda. Logika formal dalam filsafat cenderung berujuan untuk membentuk atau menciptakan bahasa yang benar dalam setiap teorinya.

Lihat misalnya yang dilakukan Carnap yang menyalahkan bahasa karena ia beranggapan bahwa “banyak kontradiksi filosofis muncul karena penyalahgunaan bahasa (Baca ringkasan buku The Logical Structure of the World, (1967) dalam Jurnal Philosophy Compass berjudul Carnap’s Logical Structure of the World karya Christopher Pincock)

Sementara, logika formal dalam bahasa lebih banyak bertujuan untuk menciptakan atau menghancurkan bahasa. Misalnya pada pemikiran Hjelmselv yang beranggapan bahwa bahasa tidak melulu soal benar dan salah, tapi lebih pada saling terhubungnya isi dan ekspresi. Dan karenanya, jika dalam bahasa hanya mementingkan ‘isi’ atau ‘ekspresi’ saja, maka sebaiknya bahasa itu tidak ada. Tidak berguna.

Linguis dan Filsuf

Filsuf tertarik pada bukti langsung atau tidak langsung yang berasal dari statemen dalam bentuk bahasa. Meskipun kadang-kadang pernyataan itu sulit untuk dipikirkan, misalnya tuhan sudah mati, tapi filsuf bisa menjelaskan pernyataan itu. Begitu juga dengan para ilmuan sains. Pernyataan-pernyataan yang berhubungan dengan perasaan dan angan-angan, bahkan di luar batas imajinasi kita, juga merupakan suatu ketertarikan tersendiri bagi para ilmuan sains. Misalya, Alien itu ada.

Namun linguis berbeda. Linguis lebih tertarik pada bentuk dan makna dari pernyataan itu. Linguis akan bekerja dengan cara yang unik, misalnya dengan memasukkan pernyataan-pernyataan itu dalam satu jenis kalimat atau gaya bahasa. Apakah itu termasuk kalimat deskriptif, persuasif, atau perintah. Atau mungkin linguis akan melihat pernyataan itu dengan pendekatan morfologi, sintaksis dan sebagainya. Sehingga, setiap bahasa, bagi seorang linguis merupakan sesuatu yang mempunyai arti.

Pada kenyataannya, linguis dan filsuf kadang berhubungan dengan diam-diam. Sebagian linguis menghendaki ketidaktergantungannya pada pada asumsi filosofis. Misalnya dalam hal ontologi bahasa, epistimologi, dan sebagainya. Hal itu juga berhubungan dengan prestis saintifik dari sebuah ilmu. Tidak bisa dipungkiri, bahasa juga membutuhkannya. Tanpa epistimologi, ontologi, dan -logi -logi khas filsafat lainnya, linguistik tidak akan pernah ada. Saussure juga mungkin tidak akan menemukan kelima dikotominya. Bahkan fakultas bahasa mungkin juga tidak akan pernah ada.

Berkaitan dengan hal itu, dalam tulisan ini, saya mengambil sikap sikap pragmatis dalam melihat realitas teori bahasa. Dalam artian, teori bahasa itu hanya ada ketika bahasa itu merupakan fakta-fakta yang dibenarkan oleh indera yang valid. Ini mendasar pada filsafat yang hanya dapat menyimpulkan fakta-fakta seperti itu.

Realitas Teori Bahasa

Dengan demikian, realitas teori bahasa ini akan melihat bahasa dari sudut pandan filsafat. Ada dua hal pokok yang membedakannya dengan teori bahasa dari sudut filsafat atau linguistik saja, yaitu verkaitan dengan teori bahasa yang hubungannya dengan konsep tentang manusia dan teori bahasa yang hubungannya dengan konsep ilmu pengetahuan.

Realitas Teori Bahasa

Pertama, bahasa itu sendiri merupakan kegiatan manusia. Pendeknya, pandangan yang berbeda tentang aktivitas manusia yang terlibat didalamnya, akan menghasilkan pandangan tentang bahasa yang berbeda pula. Si A ketika mengatakan ‘pohon’ akan berbeda pandangannya dengan si B yang mengatakan ‘pohon’ pula. Terkait hal ini silahkan membaca artikel selanjutnya di Bahasa dan konsep tentang manusia.

Kedua, bahasa juga merupakan ilmu pengetahuan. Dan sebagai ilmu pengetahuan ia harus melalui prosedur-prosedur yang ketat dalam memperoleh predikat ilmiah. Poin ini hubungannya dengan filsafat. Setidaknya ada dua hal syarat pokok: bahasa itu bisa diperoleh dari pengamatan lalu diklasifikasi fakta-faktanya dan 2) bahasa itu bisa dikonstruksi melalui intuisi-intuisi lalu diterapkan pada fakta-fakatanya.

Dalam filsafat, dua hal itu biasa dikenal dengan induktif dan deduktif. Untuk ini silahkan membaca artikel Bahasa dan Konsep Ilmu Pengetahuan.

bacatulis

Recent Posts

Membaca adalah Belajar Menghadapi Tantangan

Membaca adalah belajar menghadapi tantangan. Pertimbangan lain, ketika melihat anak-anak di sekolah dan di luar…

9 months ago

Pentingnya Waktu Membaca Bagi Anak-anak

Pentingnya waktu untuk membaca bagi anak-anak, mudahnya, dikarenakan dua hal: pertama, membaca merupakan keterampilan akademis…

9 months ago

Membaca Itu Mengajari Diri Sendiri

Membaca itu mengajari diri sendiri karena berhubungan dengan penguasaan kosakata. Salah satu artikel dari eric.ed.gov…

9 months ago

Pentingnya Keterampilan Membaca Bagi Anak

Sedang nikmat-nikmatnya ngudut di warung, tiba-tiba datang seorang kawan lama duduk di depanku dan tanpa…

9 months ago

Bahasa Sebagai Bentuk Isi-Ekspresi Sekaligus

Bahasa sebagai bentuk isi-ekspresi sekaligus (BD) merupakan perpaduan antara bahasa sebagai bentuk – isi dan…

10 months ago

Bahasa Sebagai Bentuk (Isi dan Ekspresi)

Bahasa sebagai bentuk mulai terkenal pada pertengahan pertama abad 20. Para linguis mulai banyak beralih…

10 months ago