Categories: EsaiIlmu Bahasa

Wacana dalam Naratologi Seymour Chatman

Wacana dalam naratologi Seymour Chatman merupakan strategi yang dipakai untuk mengomunikasikan sebuah cerita. Sejalan dengan konsepsi Chatman (p.19) bahwa wacana tak lain ialah ekspresi pengkomunikasian yang artinya melalui “apa” dan “bagaimana” suatu konten cerita (story) diartikulasikan maknanya kepada khalayak.

Hal ini berarti merujuk pada medium dan strategi tekstual maupun visual yang dipakai oleh pembuat cerita untuk menyampaikan maksud tertentu.

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan Naratologi Seymour Chatman: Gambaran Umum dan Naratologi Chatman: Cerita (Story).

Ada dua bagian dalam discourse: Struktur transmisi naratif dan dan manifestasi.

Wacana dalam naratologi Seymour Chatman

Wacana dalam naratologi Seymour Chatman

Dalam elemen discourse, Chatman memfokuskan pembahasannya pada teknik-teknik pengartikulasian cerita yang menggunakan medium audiovisual, seperti film dan juga secara terbatas diterapkan pada komik. Hal ini mungkin karena Chatman tidak ingin terjebak pada hasil kerja yang serupa dengan tokoh-tokoh pemikir studi narrative lainnya yang melulu membahas soal puisi, novel, drama, dongeng, dan karya-karya tekstual lainnya.

Ini artinya, Chatman mengajukan seperangkat gagasan dan ide tentang discourse yang berkutat pada istilah-istilah spesifik dan teknis yang jamak dipakai dalam proses produksi film. Hal ini menimbulkan konsekuensi teoritik (dan tentu saja ada konsekuensi metodologis) yang harus dipikirkan. Pembahasan Chatman yang berkutat pada konsep-konsep teknis dalam film yang berbeda sama sekali dengan teks berita, namun juga menyangkut “roh” dari objek kajian dimana teks berita merupakan narasi bergenre faktual, bukan fiksional seperti film.

Betapa pun begitu setidaknya menurut Chatman (p.22) pembahasan seputar “apa” dan “bagaimana” suatu konten cerita (story) dikomunikasikan dapat dipahami melalui dua hal mendasar: struktur dari penyampaian narasi dan pengartikulasiannya melalui materi perantara (medium) yang spesifik antara lain komunikasi verbal, tekstual, sinematik, musikal, dan sebagainya.

Manifestasi dalam konteks wacana naratologi Chatman dimaksudkan sebagai medium pengkomunikasian cerita. Pertama-tama berkaitan dengan wacana yang dipahami sebagai struktur transmisi narasi, Chatman mula-mula dengan tegas menyatakan dalil bahwa berbicara soal naratif berarti tak bisa dilepaskan dari pembacaan terhadap struktur. Artinya, sistem makna yang hendak dikonstruksikan melalui narasi mula-mula harus memenuhi syarat saling keterhubungan dalam logika sebab akibat tertentu. Satu ide pokok sebuah peristiwa harus didukung oleh sub-sub ide lainnya.

Proses membangun keterhubungan antar ide inilah yang membentuk struktur narasi yang mana akan nampak sebagai proses mentransformasi struktur terdalam (deep structure)—yang secara longgar bisa diterjemahkan sebagai gagasan atau ide atau makna tertentu—menjadi representasi permukaan lewat koherensi tekstual yang dipaparkan sehingga mampu dipahami oleh khalayak (Chatman, 1978:21). Di titik inilah wacana menurut Chatman bekerja melalui struktur yang disusun secara koheren untuk mengartikulasikan substansi dari konten cerita.

Diagram Struktur Naratif

Diagram Naratologi Seymour Chatman

Dari tabel di atas, kita bisa melihat bagaimana struktur dan alur dalam teks naratif. Secara sederhana, penulis asli (real author) menciptakan karyanya dalam bentuk teks naratif untuk pembaca asli (real audience). Dan dalam teks naratif itu, secara tidak langsung mengandung penulis tersirat dan pembaca tersirat. Dalam alurnya, aspek discourse yang dibawa oleh penulis asli dikirim dalam bentuk suatu statemen. Lalu statetem itu ditransformasikan dalam bentuk cerita. Dan cerita (story) itulah yang dibaca oleh pembaca.

Sehingga untuk memahami wacana atau makna dari suatu teks naratif, terlebih dulu kita akan bersinggungan dengan aspek cerita terlebih dahulu.

Dalam memahami discourse dalam naratologi diperlukan juga pembahasan mengenai waktu, durasi dan frekuensi dalam teks naratif. Dalam ketiga hal tersebut Chatman mengadopsi teori dari Genette (p. 64). Secara sederhana, struktur naratif waktu berhubungan dengan waktu story dan waktu discourse. Waktu story adalah waktu berlangsungnya peristiwa-peristiwa dalam sebuah cerita.

Sementara waktu discourse adalah waktu yang diperlukan untuk membaca sebuah wacana sastra. Adanya waktu discourse mengakibatkan anakroni karena adanya hubungan antara waktu discourse dan waktu fiksi yang tidak pemah sejajar.

Dalam pengaplikasian teori naratologi Seymour Chatman dalam novel silahkan membaca jurnal karya Rokhyanto berjudul Struktur Naratif Model Seymour Chatman dalam Aplikasi Novel Tarian Dua Wajah Karya S. Prasetyo Utomo.

bacatulis

Recent Posts

Membaca adalah Belajar Menghadapi Tantangan

Membaca adalah belajar menghadapi tantangan. Pertimbangan lain, ketika melihat anak-anak di sekolah dan di luar…

9 months ago

Pentingnya Waktu Membaca Bagi Anak-anak

Pentingnya waktu untuk membaca bagi anak-anak, mudahnya, dikarenakan dua hal: pertama, membaca merupakan keterampilan akademis…

9 months ago

Membaca Itu Mengajari Diri Sendiri

Membaca itu mengajari diri sendiri karena berhubungan dengan penguasaan kosakata. Salah satu artikel dari eric.ed.gov…

9 months ago

Pentingnya Keterampilan Membaca Bagi Anak

Sedang nikmat-nikmatnya ngudut di warung, tiba-tiba datang seorang kawan lama duduk di depanku dan tanpa…

9 months ago

Bahasa Sebagai Bentuk Isi-Ekspresi Sekaligus

Bahasa sebagai bentuk isi-ekspresi sekaligus (BD) merupakan perpaduan antara bahasa sebagai bentuk – isi dan…

10 months ago

Bahasa Sebagai Bentuk (Isi dan Ekspresi)

Bahasa sebagai bentuk mulai terkenal pada pertengahan pertama abad 20. Para linguis mulai banyak beralih…

10 months ago