Categories: Tokoh

Kwee Tek Hoay: Penulis Produktif Indie Prakemerdekaan

Kwee Tek Hoay merupakan salah satu penulis produktif Indie Prakemerdekaan. Jujur, saya baru tahu namanya semenjak saya memegang buku kontroversial Si Anu tentang tokoh berpengaruh. Dalam buku itu, ia ditempatkan di bagian pertama, karena memang buku itu mencoba untuk menyusun tokoh berdasarkan tahun, bukan berdasarkan pengaruh.

Potret Kwee Tek Hoay. Sumber Ensiklopedia Sastra Indonesia

Lalu Februari 2019 lalu, Tirto menulis tentang tokoh Kwee Tek Hoay sebagai tokoh yang cenderung Nasionalisme dibanding PKI.

Jujur saja, selama saya bersekolah di jurusan Bahasa, pelajaran sastra Indonesia selalu dimulai dengan tokoh Muh. Yamin, Marah Rusli atau Hamka. Kalau karya pasti langsung Layar Terkembang, Tenggelamnya Kapal Vanderwijck, atau Belenggu. Padahal jika melihat karya-karya, track record, dan perjuangannya dalam perkembangan bahasa dan sastra Indoensia, nama Kwee Tek Hoay memang selayaknya dia juga disebut.

Karena itulah saya penasaran. Dan ingin mencari atau mengenal lebih dekat. Untuk biografinya, silahkan baca artikel dari Ensiklopedia Sastra Indonesia Kwee Tek Hoay (1886—1952).

Kwee Tek Hoay menjadi Penulis Produktif Indie Prakemerdekaan

Melayu Rendah x Melayu Tinggi

Salah satu alasan Bahasa Melayu ‘diambil’ sebagai bahasa Bahasa Indonesia adalah karena tidak adanya tingkatan. Tapi jika merujuk pada tulisan Agus R. Sarjono, maka hal alasan itu tidak dapat diterima. Di tulisannya, Sarjono mengatakan bahwa ada dua ciri khas karya yang diterbitkan pada zaman  itu, Bahasa Melayu tinggi dan Melayu Rendah. Di mana Melayu tinggi diwakili oleh Balai Pustaka, sementara Melayu rendah, dalam imajinasi saya kalau sekarang mungkin bisa disebut penerbit Indie. Dan Kwee Tek Hoay ini menjadi salah satu penulis Indie yang terkenal.

Kwee Tek Hoay sendiri menyebutkan bahwa ia merasa bangga dan yakin pada bahasa Melayu Rendah. Sarjono menulis (hlm. 3) bahwa ia sendiri mengakui tanpa ragu menggunakan bahasa Melayu Rendah sebagaimana terlihat dalam drama Korbannya Kong-Ek: “Aku bukan sombong, tapi aku percaya, aku dan engko Kioe Gie bua kalam tida aken jadi linyap sebegitu lama masih ada orang yang membaca bahasa melayu renda.”

Namun menurut Sarjono, dalam segi muatan atau isinya ia termasuk pada kategori sastrawan Balai Pustaka.

Gemar Menulis Sejak Dini

Jika boleh dibilang, Kwee Tek Hoay lebih gemar membaca dibanding menulis. Buku-buku referensi yang ia baca menurut Sarjono sangat banyak, mulai dari Shakespear, Charles Dickens, Max Havelar, dan sebagainya telah ia baca.

Ketika membantu ayahnya menjaga toko, ia sering mencuri-curi waktu untuk membaca. Dan kegemarannya menulis sudah dimulai sejak ia masih sekolah. Ya, meskipun katanya di sekolah sering membolos – karena di sekolahnya menggunakan bahasa Hokkian dan ia tidak bisa bahasa Hokkian – ia tetap mencari beragam cara untuk bisa tetap membaca dan menulis.

Pada masa awal, tulisan-tulisannya dimuat di berbagai surat kabar terkenal pada saat itu, seperti Li Po, Sin Po, Ho Po dan Bintang Betawi. Menurut Prof. Dr. Claudine Lombard-Salmon, (via Sarjono) dalam bukunya Literature in Malay by The Chinesse of Indonesia menyebut bahwa sejak tahun 1902 Kwee Tek Hoay telah menyumbangkan banyak karya tulis di berbagai surat kabar.

Wartawan yang bandel

Setelah menjadi penulis lepas, lalu ia merambah dunia jurnalistik. Di situ ia menulis tentang perang dunia pertama, “Pemandangan Perang Dunia Pertama tahun 1914 – 1918” yang dimuat di surat kabar Sin Po.

Sebagai wartawan, ia mengawali karirnya sebagai anggota redaksi majalah Ho Po dan surat kabar Li Po Bogor. Dua surat kabar itu berdomilsili di tempat kelahirannya. Lalu ia pindah merantau ke Batavia, dan bekerja di majalah Sin Po.

Sebagai jurnalis, ia tergolong bandel. Sarjono menulis bahwa ia terlalu vokal dalam menyuarakan pandangan-pandangannya yang bertentangan dengan nilai-nilai kolonialisme. Ia pun pernah diseret ke pengadilan dan dipenjara. Tak hanya itu, ia pun dikucilkan sebagai seorang wartawan. Namun ia tak putus asa, ia terus menyarakan kebenaran.

Ketika ia sudah tidak mendapat tempat, ia malah ‘membuat’ tempat itu sendiri. Ia mendirikan majalah Panorama pada tahun 1926. Dan ‘fungsi’ dari tempat itu tak lain adalah untuk menyuarakan pandangan politiknya yang kerap kontroversial, nakal dan berbeda dari para pemimpin koran lain yang menjadi pesaingnya. Pengalaman itu terlihat dalam naskah dramanya yang terkenal, Allah jang Palsoe.

Penulis Produktif Dengan Gaya yang Unik

Ada beragam versi tentang jumlah karya Kwee Tek Hoay. Sarjono menyebut ada lebih dari 100 karya, baik karya asli, saduran atau terjemahan yang dihasilkannya selama 20 tahun.

Sementara Salmon mencatat bahwa jumlah karyanya lebih dari 115 judul buku, tidak termasuk berbagai esai yang pernah ditulisnya dalam surat kabar dan majalah.

Bentuk tulisannya cenderung realisme. Bentuk yang yang sangat jarang ada pada masa itu. Bentuk realisme, pada saat itu mungkin bentuk khas tulisan indie. Hal itu mungkin karena latar belakang dan bakatnya sebagai jurnalis dan wartawan.

Ia akan mengumpulkan data-data. Data-data itu sendiri tentunya tidak akan semuanya dimasukkan dalam berita. Ada beberapa bagian data yang tidak bisa dimuat dalam berita. Data itulah yang akan menjadi bahannya untuk menulis cerita.

Tapi cara atau teknik menulis cerita atau sastra yang seperti itu sekarang sudah mulai banyak digunakan. Jadi kalau sekarang Kwee Tek Hoay hidup, ia tidak termasuk dalam kategori indie. Hehe..

Kesimpulan

Kwee Tek Hoay adalah Penulis Produktif Indie Prakemerdekaan. Hal itu terlihat dari bahasa yang ia gunakan, penerbitan yang ia gunakan, sebagai wartawan ia tergolong bandel, jumlah karya tulis baik sastra maupun nonsastra yang banyak, serta gaya penulisannya yang unik dan anti-mainstream di zamannya.

bacatulis

Recent Posts

Membaca adalah Belajar Menghadapi Tantangan

Membaca adalah belajar menghadapi tantangan. Pertimbangan lain, ketika melihat anak-anak di sekolah dan di luar…

10 months ago

Pentingnya Waktu Membaca Bagi Anak-anak

Pentingnya waktu untuk membaca bagi anak-anak, mudahnya, dikarenakan dua hal: pertama, membaca merupakan keterampilan akademis…

10 months ago

Membaca Itu Mengajari Diri Sendiri

Membaca itu mengajari diri sendiri karena berhubungan dengan penguasaan kosakata. Salah satu artikel dari eric.ed.gov…

10 months ago

Pentingnya Keterampilan Membaca Bagi Anak

Sedang nikmat-nikmatnya ngudut di warung, tiba-tiba datang seorang kawan lama duduk di depanku dan tanpa…

10 months ago

Bahasa Sebagai Bentuk Isi-Ekspresi Sekaligus

Bahasa sebagai bentuk isi-ekspresi sekaligus (BD) merupakan perpaduan antara bahasa sebagai bentuk – isi dan…

11 months ago

Bahasa Sebagai Bentuk (Isi dan Ekspresi)

Bahasa sebagai bentuk mulai terkenal pada pertengahan pertama abad 20. Para linguis mulai banyak beralih…

11 months ago