Categories: NonsastraTokoh

Kiai Masduqi Zaed (Biografi Keteladanan) : Ulasan Buku Tokoh

Kiai Masduqi Zaed Biografi Keteladanan merupakan buku yang ditulis oleh Wildan Habibi pada tahun 2018. Buku tersebut sejauh penelusuran saya, buku satu-satunya yang menceritakan sejarah Kiai Masduqi.

Wildan Habibi sendiri merupakan salah satu santri pondok pesantren Assalafiyah Mlangi. Ia berasal dari Desa Bates, Blega, Bangkalan, Madura. Sebelum mondok di Assalafiyah, ia pernah belajar di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Menurut keterangan, di buku, ia sekarang mencari tema untuk tugas akhir di program studi S1 sejarah departemen secara fakultas ilmu budaya UGM. Semoga sudah lulus. Amin.

Kiai Masduqi Zaed (Biografi Keteladanan)

Ulasan ini merupakan ulasan tokoh yang bersumber dari buku.

Detil Buku Kiai Masduqi Zaed

Editor buku tersebut adalah Syafiq Addarisy. Untuk Sampul diampu Harindyo Omardhani, namun ada keterangan bahwa lukisan digital dari kover buku tersebut ciptaan Fihril Kamil. Lalu untuk tata letaknya, diampu oleh Imam Hasanuddin.

Buku Kiai Masduqi Zaed: Biografi Keteladanan diterbitkan sendiri oleh Assalafiyah Mlangi. Cetakan pertama, Mei, 2018. Jumlah halaman, xxvii+174 halaman. Untuk ukuran buku standart 13,5×20 cm.

Pertama-tama berisi sambutan keluarga oleh Kiai Irwan Masduqi. Kemudian dilanjut dengan pengantar penulis.

Buku ini secara garis besar dibagi menjadi 5 bab, yaitu: pertama, silsilah keluarga dan masa kecil; kedua, menuntut ilmu; ketiga, perjuangan; keempat, mengenal lebih dekat; dan kelima, kepergian.

Buku ini menjadi lebih menarik ketika ada banyak gambar-gambar pendukung. Total ada 18 gambar. Selain itu ada daftar grafik tentang jumlah santri dan jumlah pendaftar santri putra Putri. Sehingga pembaca bisa mengetahui pula perkembangan Pesantren Assalafiyah.

Catatan

Secara ringkas, Kiai Masquqi Zaed merupakan keturunan seorang ulama dan bangsawan Keraton Kiai Nur Iman yang bernama asli GBPH Sandiyo, atau biasa disebut mbah nuriman. GBPH merupakan singkatan dari Gusti Bendoro pangeran yang merupakan gelar yang diberikan kepada Raden Sandiyo karena kedudukannya sebagai putra Sunan Amangkurat IV Raja Mataram yang berkedudukan di Kartasura. Dengan demikian, nasab beliau merupakan nasab yang baik. Beliau merupakan turunan dari Ki Ageng Pemanahan, yang juga berarti turunan langsung dari raja pertama Mataram, Panembahan Senopati.

Lalu untuk pendidikan Kiai Masduqi Zaed, beliau belajar di beberapa Pondok. Pertama-tama beliau mencari ilmu di Mlangi dari ayahnya sendiri. Lalu ia belajar di Pondok kawak Tremas. Di sana beliau belajar dan bertemu dengan Kiai Dimyati, yang tak lain adalah kakak dari Kiai Ahmad Dahlan. Di situ juga Beliau bertemu dengan Kiai Adnan dan membantunya untuk mengajar di Bojonegoro. Kurang lebih tujuh tahun Kiai Masduqi di Bojonegoro. Setelah itu, tahun 1927 beliau belajar pada Kiai Maksum, Punduh, Magelang. Di Punduh, Kiai Masduqi Zaed mencari ilmu selama tiga tahun.

Pada bab perjuangan Kiai Masduqi, Wildan Habibi membaginya menjadi 3 bagian utama, yaitu: 1) membangun pondok untuk mengajarkan keilmuan Islam yaitu Pondok Assalafiyah untuk mendidik para santri yang berkarakter; 2) melakukan dakwah untuk menyampaikan kebaikan kebaikan kepada masyarakat; dan 3) menjadi Mursyid tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah.

Lukisan Kiai Masduqi Zaed dari buku

Ulasan

Kelebihan dari buku Kiai Masduqi Zaed: Biografi Keteladanan karya Wildan ini adalah adanya suguhan bab tentang cerita-cerita, fakta, dan kharisma pribadi Kiai Masduqi Zaed. Jika pembaca adalah santri, maka ia akan mendapatkan gambaran bahwa Kiai Masduqi adalah seorang kiai yang kharismatik.

Secara pribadi, dengan membaca buku ini saya ‘seoalah-olah’ merasa bisa menjadi santri dari Kiai Masduqi. Misalnya halaman 99-100:

~ untuk memberi taqrib bacaan alhamdulillah misalnya, beliau merasa tidak cukup dengan hanya menakrib, alhamdu utawi sekabehane puji iku lillahi tetap kagungane Allah. pembacaan Alhamdulillah cara Kiai Masduqi harus lengkap beserta ilmu tauhid yang terkandung di dalamnya, yaitu dengan cara alhamdu utawi sekabehane puji Kang Patang perkoro iku lillahi tetap kegunaane Allah. Tambahan Patang perkoro yang bermakna empat perkara tersebut menurut Kiai Masduqi penting untuk turut dibaca agar santri memahami bahwa pujian (hamdu) bagi Allah itu ada empat macam.

Yang kedua, kelibihan buku ini adalah banyak sekali wejangan-wejangan dari Kiai Masduqi yang khas Kiai. Misalnya halaman 106,

~Wong ngaji iki, Ngger, senajan kowe isok kudu tok tulis. Iku faedahe akeh. Siji, nek kowe suwi ora buka, sesok nek eneng seng lali maknane, nek kowe buka kowe isok. Pindo, sesok ngeboti trajuh.”

Atau kutipan pada halaman 121,

~Ngaji iku ora cukup jurumiyah, Ngger. Kowe sinau perkara seng ra ketok ae iso, masak seng ketok ora isa.

~santri iki kudu dadi mas ngabehi, kabeh-kabeh isa.

Wejangan-wejangan itu pun bukan sembarangan asalnya. Mengikuti terminologi santri, nasabnya jelas. Setiap ada wejangan selalu ada catatan kaki yang bersumber dari para saksi hidup Kiai Masduqi. Dan setelah saya periksa, ada 22 orang yang dia wawancara.

Hanya saja, menurut saya akan lebih bagus lagi ketika gambar-gambar dari buku tersebut berwarna. Karena ada beberapa gambar yang kurang jelas.

Penutup tentang buku Kiai Masduqi Zaed

Buku Kiai Masduqi Zaed: Biografi Keteladanan sangat layak untuk dibaca oleh para santri, terutama santri Pesantren Assalafiyah. Kelebihan buku ini adalah pembaca akan berimajinasi menjadi santri Pesantren Assalafiyah. Hal itu dikarenakan tiga hal, yaitu: 1) gaya bahasa yang mudah dimengerti, terutama para santri; 2) banyak mengandung wejangan-wejangan khas kiai pada santri; dan 3) suguhan cerita-cerita Kiai Masduqi sebagai sosok kiai yang kharismatik yang sangat kita rindukan sosoknya di mana sosok kiai seperti beliau mulai jarang.

bacatulis

Recent Posts

Membaca adalah Belajar Menghadapi Tantangan

Membaca adalah belajar menghadapi tantangan. Pertimbangan lain, ketika melihat anak-anak di sekolah dan di luar…

10 months ago

Pentingnya Waktu Membaca Bagi Anak-anak

Pentingnya waktu untuk membaca bagi anak-anak, mudahnya, dikarenakan dua hal: pertama, membaca merupakan keterampilan akademis…

10 months ago

Membaca Itu Mengajari Diri Sendiri

Membaca itu mengajari diri sendiri karena berhubungan dengan penguasaan kosakata. Salah satu artikel dari eric.ed.gov…

10 months ago

Pentingnya Keterampilan Membaca Bagi Anak

Sedang nikmat-nikmatnya ngudut di warung, tiba-tiba datang seorang kawan lama duduk di depanku dan tanpa…

10 months ago

Bahasa Sebagai Bentuk Isi-Ekspresi Sekaligus

Bahasa sebagai bentuk isi-ekspresi sekaligus (BD) merupakan perpaduan antara bahasa sebagai bentuk – isi dan…

11 months ago

Bahasa Sebagai Bentuk (Isi dan Ekspresi)

Bahasa sebagai bentuk mulai terkenal pada pertengahan pertama abad 20. Para linguis mulai banyak beralih…

11 months ago