Kerja Pembajak Buku: Gambaran Singkat

Saya ingin menuliskan Kerja Pembajak Buku ini kembali setelah pertama kali saya publikasikan di Blog Pribadi Bucin Bajakan. Ada beberapa perubahan dari tulisan pertama saya.

Di tulisan ini, pertama-tama, saya mencoba menceritakan pengalaman saya selama bekerja di salah satu tempat fotokopi Yogyakarta. Selain sebagai tempat fotokopi dan print untuk tugas kampus (makalah, paper, skripsi, dan sebagainya) tak jarang bos saya memerintahkan saya untuk memfotokopi buku. Kuantitasnya bermacam-macam. Kadang ada yang cuman 2 eksemplar, 1 eksemplar, 10 eksemplar, bahkan pernah 200 eksemplar. Seringnya lebih dari 5 eksemplar.

Bahan Buku Bajakan

Tahap pertama dalam mengetahui bahan buku bajakan. Ada dua cara pembajak mendapatkan bahan bajakan: sengaja mencari dan tidak sengaja mendapatkan bahan. Perlu diketahui, tidak selamanya pembajak buku dengan sengaja mencari bahan untuk dibajak. Misalnya, tahu kalo buku ‘A’ adalah buku yang laris, lalu kemudian pembajak membajak buku itu. Tidak selalu seperti itu. Tetapi kadang pembajak diminta oleh ‘customer’ untuk membajak buku tertentu, demi keperluan tertentu. Di tempat fotokopi saya bekerja dua cara itu terjadi. Tapi yang paling sering adalah karena ‘dipaksa’ customer.

Sering sekali, seorang mahasiswa/i datang ke tempat fotokopi sambil membawa buku (seringnya buku dari perpustakaan karena ada label perpustakaan), lalu meminta saya untuk memperbanyak buku itu. “Difotokopi 5, mas. Besok bisa jadi nggak, mas?” Sebagai pekerja yang baik saya pun menjawab, “Siap. Bisa.”

Di lain waktu, kadang mahasiswa/i datang membawa flashdisk, lalu bilang, “Mas, print buku bisa?”. Dengan semangat, daripada tidak ada kerjaan, saya pun bilang iya. “Diprint 3, mas,” perintahnya.

Itu jika, bahan buku bajakan datang sendiri dan atas permintaan customer. Sementara jika bahan buku bajakan itu tidak datang sendiri, maka si bos biasanya mencari buku-buku yang sekiranya dibutuhkan mahasiswa lalu saya disuruhnya untuk memperbanyak. Buku-buku itu tentu bukan sembarang buku, tapi buku yang khusus. Setidaknya, seingatku dulu, ada tiga kriteria penting menjadikan buku itu layak untuk menjadi bahan bajakan: buku wajib, harga buku asli mahal, dan bukunya sulit didapatkan.

Penggarapan Kerja Pembajak Buku

Setelah mendapatkan bahan, saya langsung menggarapnya. Proses penggarapan ini akan sangat panjang prosesnya jika dijelaskan secara detail. Mungkin di lain waktu saya jelaskan. Tapi pada tulisan ini, yang penting untuk diperhatikan adalah ‘beda bahan bajakan, beda cara.’ Jika bahan bajakan berupa file, saya dengan mudah membajak buku itu. Tinggal meng-klik beberapa kali, mesin langsung otomatis menghasilkan huruf-huruf tercetak pada lembaran-lembaran kertas.

Namun, jika bahan berupa buku, saya melihat-lihat dulu bukunya. Bisa tidak, buku itu langsung difotokopi, mengingat tidak semua margin buku sama. Kadang ada yang marjinnya terlalu kecil hingga tidak memungkinkan untuk langsung difotokopi, ada juga yang marjinnya besar hingga memungkinkan untuk langsung hajar. Seringnya, buku A5 mempunyai margin lebih kecil dan susah untuk langsung hajar. Untuk mengakalinya, saya dan saya yakin pe-fotokopi, akan ‘memberedeli’ buku itu. Langkah itu selalu efisien. Hanya kurang efisien jika pesanan bajakan cuman 1 buku.

Tindakan memberedeli buku itu tentu mempunyai konsekuensi, baik pada buku itu sendiri maupun pada pembajak. Pada buku itu, setelah diberedel, buku itu akan terlihat lebih kecil beberapa milimeter. Maksimal 5 milimeter. Tak terlalu kelihatan pastinya. Karena setelah diberedel, pembajak akan menjilid buku itu lagi yang berarti terpaksa meratakan satu sisi lagi. Selain itu agar ada tempat buat lem. Jika tidak diratakan, maka kekuatan penjilidan buku akan berkurang.

Di situlah, saya sering tersenyum kecut, ketika sering kali saya ke perpustakaan, lalu mendapati buku yang sudah rusak jilidannya. Sebenarnya banyak detil-detil yang perlu dijelaskan dalam membajak buku. Seperti kaver, laminasi, tinta, dan sebagainya. Tak jarang saya harus menscan kaver buku itu, jika di Google tidak ada. Tapi yang pasti proses membajak buku, tergantung dari bahan bajakannya. Dan pembajak buku, mungkin karena pengaruh teknologi, lebih suka dengan file lunak. Apalagi sudah berformat *.pdf. “Ditunggu bisa, mas.” Ucapku pada customer dengan percaya diri jika membawa flashdisk.

Penggarapan Kerja Pembajak Buku yang merugikan pembaca

Menghitung Harga

Setelah buku bajakan jadi, langkah kerja pembajak buku selanjutnya adalah menghitung harga. Menentukan harga buku bajakan tergantung dari mana bahan buku bajakannya dan siapa yang memesan. Jika bahan buku bajakan itu didapatkan dari costumer yang mana mahasiswa, maka menghitung harga bukunya sangat mudah. Rumusnya pun standar. Bahkan teman saya bekerja yang masih kelas 1 SMA bisa menghitung harga buku bajakan dengan bahan dari customer (mahasiswa/i).

Standar rumusnya:
Perlembar A5=75
Jilid=3.000
Kover+laminasi=4.000

Jika tebal halaman 100, maka: 75×100=7500 ditambah 7000 (kover+jilid)=14.500.

Rumus perhitungan itu juga masih fleksibel. Kadang jika butuh cepat, harga jilid dinaikkan serta ada tambahan ‘bonus’.

Lain hal jika bahan buku bajakan itu sengaja dicari dan yang memesan berasal dari kalangan umum. Untuk menentukan harga dengan jenis buku bajakan seperti ini, saya kurang begitu memahami. Tapi sepertinya, hukum penawaran dan permintaan berlaku. Proses menghitung harganya pun rumit. Tidak lagi personal, tapi pasar.

Dulu pernah, bos saya menyuruh saya untuk ‘memfotokopi’ buku ‘A’ sebanyak 50 eks. Saya tahu buku ‘A’ itu ditulis oleh penulis terkenal. Total per buku saya bilang harga produksinya 17500. Bos saya lihat kualitas ‘buku bajakan’ saya. Tapi kemudian, bos saya bilang, “Besok jika ada yang ngambil, kasih harga 30.000 per buku.”

Besoknya, tanpa ba-bi-bu, yang ngambil langsung bayar 1.5jt.

Tapi di satu waktu, harga buku bajakan itu dijual bos saya dengan harga sesuai produksi. Bahkan pernah, sekali dua kali, tidak sering, bos saya menjual buku bajakan itu di bawah harga produksi.

Ringkasan

Pengalaman kerja pembajak buku itu saya jalani di tahun 2017, Mei-Agustus. Selama itu, saya akui, ada ratusan buku yang telah saya ‘fotokopi’. Bisa dibilang, kerja di sana, saya tercukupi. Bos saya sering memberikan tips. Apalagi ketika sehari omset berada di atas target. Sesekali saya pun ikut ‘pinjam’ buku bajakan itu untuk saya baca.

Setelah keluar, tanpa sengaja, saya membaca artikel dari seorang penulis yang saya hormati. Artikel itu membahas tentang pembajakan buku. Hati saya merasa berdosa. Tapi saya menghibur diri dengan mengatakan, saya hanya bekerja, mencari nafkah.

Di zaman teknologi canggih seperti ini, tentu prosesnya akan lebih mudah dan murah. Buku bajakan ternyata tak hanya hadir di fotokopi-fotokopi dekat kampus. Tapi juga di market place sudah banyak beredar buku bajakan.

Saya bahkan shock ketika melihat harga buku bajakan yang beredar di market place. Bagaimana mungkin, buku setebal 746 halaman, yang harga aslinya 120 ribu, dibajak, lalu dijual dengan harga cuman 28ribu, per halaman berarti sekitar 25-30 rupiah, dengan asumsi free jilid dan kover warna?

bacatulis

Recent Posts

Membaca adalah Belajar Menghadapi Tantangan

Membaca adalah belajar menghadapi tantangan. Pertimbangan lain, ketika melihat anak-anak di sekolah dan di luar…

9 months ago

Pentingnya Waktu Membaca Bagi Anak-anak

Pentingnya waktu untuk membaca bagi anak-anak, mudahnya, dikarenakan dua hal: pertama, membaca merupakan keterampilan akademis…

9 months ago

Membaca Itu Mengajari Diri Sendiri

Membaca itu mengajari diri sendiri karena berhubungan dengan penguasaan kosakata. Salah satu artikel dari eric.ed.gov…

9 months ago

Pentingnya Keterampilan Membaca Bagi Anak

Sedang nikmat-nikmatnya ngudut di warung, tiba-tiba datang seorang kawan lama duduk di depanku dan tanpa…

9 months ago

Bahasa Sebagai Bentuk Isi-Ekspresi Sekaligus

Bahasa sebagai bentuk isi-ekspresi sekaligus (BD) merupakan perpaduan antara bahasa sebagai bentuk – isi dan…

10 months ago

Bahasa Sebagai Bentuk (Isi dan Ekspresi)

Bahasa sebagai bentuk mulai terkenal pada pertengahan pertama abad 20. Para linguis mulai banyak beralih…

10 months ago