Categories: OpiniTokoh

Afrizal Malna: Ketika Puisi Menyepi

Ini adalah untaian perasaan bebas saya pada sosok Afrizal Malna. Tulisan hanya sebatas coretan kerinduan saya akan sosok Afrizal Malna.

Sumber gambar: https://galeribukujakarta.com/puisi-puisi-afrizal-malna-2/

Tulisan ini pernah saya publikasikan di blog pribadi saya, BucinBajakan. Saya ingin memposting ulang di sini karena Blog tersebut tidak bisa saya buka lagi.

Afrizal Malna? Oh, apa yang kurang dari beliau. Puisi, cerpen, novel, kritikus sastra, teater, dan seni rupa mungkin berada dalam genggamannya. Jika ada yang belum ia genggam, maka itu adalah tangannya sendiri.*Alkisah, di tahun 1990-an, di sebuah kampung hiduplah seorang janda tua bernama Mbok Susastra. Ia tinggal di gubuk yang jauh dari sederhana, berlantai tanah, berdinding gedek, dan beratap krasak.

Di dalam gubuk itu, hanya ada satu tikar untuk tidur. Bahkan rumah itu tak punya penerangan buatan. Saat malam menyambut, Mbok Susastra hanya berharap sinar purnama menembus lubang-lubang krasak. Lalu ia akan berucap, “Truk-truk peti kemas melintasi rumahmu. Suara klaksonnya menjeritkan lemari es, toilet di tengah malam, dan sebatang tusuk gigi yang patah.”(Malna, 2016:31).

Afrizalian (Afrizal Malna?)

Ketika sudah seperti itu, pertanda bahwa Mbok Sastra merindukan salah satu anaknya, Afrizalian. Afrizalian,s osok anak kecil, bertubuh kurus dan bertubuh gelap. Ia hidup bersama Mbok Susastra sekitar tahun 1990-an. Tapi kemudian seperti anak-anaknya yang lain, Afrizalian menghilang, menyisakan nama.

Dibanding anak-anak Mbok Susastra lainnya, Afrizalian adalah yang paling aneh. Mbok Susastra jarang melahirkan anak yang mau berusaha memperbaik gubuk reotnya, dengan sunguh-sungguh! Itulah yang membuat Mbok Susastra kini begitu merindukannya.

Purnama ke delapanbelas datang. Sinar sendunya menembus ke dalam gubuk Mbok Susastra. Sambil berdiri, ia melantunkan puisi dengan suara serak.Kota seperti etalase dihui jam weker yang buas di situ. Menangkapi ikan-ikan dari limbah industri. Lalu kami bersorak, kami bisa bekerja apa saja, mengangkat batu, memindahkan hutan dan sungai-sungai, atau mencuri. Tetapi siapakah kami, di antara siaran-siaran TV itu, menyentuh sunyi di tengah pasar. (Malna, 2016:81)

Suara Mbok Susastra meninggi, seperti orang berorasi. Ia ingin melanjutkan, namun tak jadi. Karena di hadapannya kini ia melihat seorang anak dengan kepala yang menyerap sinar purnama, Afrizalian. Pelan dan tenang ia berkata, “Lanjutkan, mama. Aku rindu melihat seseorang membacaku.”Mbok Susastra melanjutkan. Ia hapal di luar kepala setiap kata yang disusun sebegitu rapi oleh Afrizalian.

“Anakku, aku merindukanmu,” ucap Mbok Susastra tenang dan duduk berhadapan dengan Afrizalian.

“Mama. Jangan membohongiku. Sejak dulu aku selalu mengerti kalau mama seorang pencipta kebohongan, pencipta ilusi.”

“Oh, Anakku. Dari mana saja~?”

“Aku tak ke mana-mana, ma. Hanya saja mama dan orang-orang kampung tak bisa melihat keberadaanku.” Ucap Afrizalian tenang pada mamanya. Mata mereka beradu. Mamanya memahami ucapan itu.

“Anakku, tidakkah kau mengerti kenapa demikian?”“Aku mengerti. Warga tak suka bergelap-gelap ria dengan bahasa. Mereka lebih suka berteman akrab dan bergembira bersama bahasa. Padahal, mama sendiri kan tahu. We are can not see Language, Langue, Parole. We can not smell it, we can not hold, even we can not hug it. Dan aku tahu cara untuk melihat dan memeluk bahasa. Pengalaman tubuh, Mama.”

Biografi singkat Afrizal Malna. Gambar dari instagram @holaholoid

Anak Baru Puisiesai

“Anakku, aku mengerti. Bagimu, benda-benda lebih banyak berbicara dari pada bahasa itu sendiri. Gubuk reot ini dibangun melalui bahasa. Tapi satu temanmu, Pradopo, mengatakan padaku dan memahamkan aturan di gubuk reot ini, bahwa ada dua konvensi dalam gubuk ini, bahasa yang pertama dan sastra yang kedua.”

“Dan Mama percaya itu?”

Mbok Susastra menggeleng. “Sudahlah, Anakku. Kemarilah, aku ingin memelukmu. Aku merindukanmu.*Siang menggelap karena awan atau karena pesawat lewat. Mbok Susastra dan Afrizalian berjalan menyusuri desa dengan berpakaian kumuh. Namun orang-orang hanya melihat Mbok Susastra beserta dua bayangan. Afrizalian menyadari, ia tak terlihat oleh warga desa dan hanya menyisakan bayang-bayang. Afrizalian telah belajar bagaimana menegar. Tak sulit, dianggap tak adasudah menjadi kebiasaannya.

Mbok Susastra hanya bisa menggenggam erat tangan anak kesayangannya, berharap genggaman tangannya tak membuat Afrizalian kesepian.Saat sedang melewati pasar, orang-orang menyapa dan memuji Mbok Susastra. Bagaimana tidak, karena Mbok Susastralah desa Puisi menjadi semakin riuh dan menjadi objek pariwisata kata-kata.“Mbok Susastra, selamat ya atas kelahiran anak barunya. Anak terakhirmu, Puisiesai, mulai banyak diperbincangkan desa-desa lain. Terima kasih,” ucap kepala desa.Mbok Susastra hanya bisa tersenyum. Sementara Afrizalian terdiam, sadar diri. Lalu mereka kembali berjalan-jalan. Menggelapkan perasaan masing-masing.

Tak dapat disangkal, pasar desa Puisi adalah tempat yang menjenuhkan bagi Afrizalian. Tapi, pasar hanya di pasar itulah, Afrizalian bisa merekahkan senyum. Ia bisa mendengar bantal, guling, dan kasur. Ia bisa memeluk sepatu, telur asin, dan bisa mengendus aroma ketsuri mikropon. Benda-benda itu membuatnya bernyawa.

Mbok Susastra ikut tersenyum melihat anak kesayangannya memasuki dunianya sendiri.“Hai. Afrizalian!” teriak seseorang saat akan keluar dari keramaian pasar desa.Afrizalian dan Mbok Susastra menoleh hampir bersamaan ke asal suara. Dilihatnya seorang anak kecil dengan pakaian kumal, seperti pengemis. Mereka saling pandang, kemudian anak kecil itu berucap, “Di siang saling menunggu dengan hari-hari lain itu, mereka masih saling memberi bingkai pada wajah sendiri. Tak ada telinga jadi berwarna, ketika coca-cola tidak membawa mereka kemana-mana. Aku temukan sisa-sisa seragam mereka, dalam daftar tenaga kerja yang menunggu batas kota. Tidak, tidak ada…di sepanjang rel kereta api antar batas kota itu. kebisuan telah merata dan kian tawar, seperti bahasa terbungkus setelan jas, untuk mayat membiru.”(Malna, 2016:69)

Bermain Catur

Afrizalian tersenyum dan melangkah mendekati anak kecil itu, “Siapa namamu, nak? Bagaimana kamu bisa melihatku?”

“Apalah arti sebuah nama,” ucap anak kecil itu. “Tapi aku punya nama. Ann. Aku bisa melihatmu karena aku mengenalmu, aku tahu rahasia-rahasiamu, dan aku sering bermain dengan dirimu. Aku sudah lama ingin bermain-main denganmu, wahai Afrizalian.” Sahut anak kecil itu.*“Bermain denganmu adalah seperti bermain catur dengan deepblue. Mekanis.” Ucap Ann dengan mengebu-gebu dalam sebuah warung kopi puisi.“Jangan sok tahu,” sahut Afrizalian.

“Begini, aku tahu kamu tidak pernah menempatkan benda-benda dan kata-kata dengan sembarangan. Aku yakin kamu tahu betul sistem dan mekanisme kata-kata dan benda-benda. Sama halnya deepblue, tak pernah salah menempatkan bagian dan unsur-unsur permainan catur,” ucap Ann sambil menyeruput kopi.

Musik dalam warung kopi memeluk mereka berdua. Sementara Mbok Susastra permisi mengurusi lomba-lomba.“Jujur saja, Afrizalian. Aku tak pernah tahu benar keadaanmu. Karena menurutku, aku tak perlu memahamimu seutuhnya. Aku hanya perlu bermain-main denganmu pada 2 level,” Ucap Ann tenang.

Afrizalian terdiam.“Pertama aku bermain denganmu di level opening. Karena di level itu, kamu bisa terlihat. Sementara ini setiap aku melihatmu, aku selalu melihat huru S-P-O-K. Lalu aku bermain denganmu dengan menggantikan urutan-urutannya. Kadang K-P-O-S atau yang lain. Sama halnya dengan deepblue, aku bisa melihat opening yang dia gunakan. Misalnya, Classical Queen atau Modern King. Baru setelah saya cukup bermain denganmu di level opening, kita bermain di level paradigmatik dan sintagmatik. Misalnya, mikropon dan sepatu. Di level ini, yang menarik adalah kapan mikropon sebagai kata dan mikropon sebagai benda.” Ann berucap seius. Afrizalian melirik Mbok Susastra yang sibuk menandatangani buku. Sementara itu perkelahian di pojok desa mulai terdengarn berbarengan dengan aroma deodoran.

Level Pertama

“Misalnya, Tikus mengundang teman-temannya di situ, membuka lemari es, membayangi selokan-selokan got pada irisan mentega (Malna, 2016:47).

Di level pertama, aku selalu bermain-main mana yang S, mana yang P, mana yang O, dan mana yang K, atau yang lain jika mungkin. Permain ini mengasikkan, karena kamu variatif dan kreatif, kadan kesemuannya S, atau bahkan kadang kesemuanya K,” ucap Ann.

“Di mana letak keasikan permaianan itu?”

“Hahaha~ Dari situ aku merasakan arti pernyataanmu, Bahasa kita bahasa apa, sih?”(Wawancara BBC, 2016)Mereka berdua pun tertawa.

“Lalu, setelah aku bermain di tingkat opening dan aku bosan, aku bermain di level kedua. Di situ Teman-temannya mengundang tikus, sepatu mengundang teman-temannya di situ,”

“Tikus membuka lemari es?” Potong Afrizalian dengan cepat.

“Bisa jadi.” Mereka berdua kembali terbahak dan hampir bersamaan menyeruput kopi.

“Ann, kamu tidak bisa seenaknya bermain seperti itu di desa Puisi. Di desa ini, ada aturan mainnya. Menyalahi aturan itu, berarti~”

“Aku tak menyalahi aturan. Begitu juga kamu, Afrizalian. Kamu lebih tahu, kamu telah menghilang ke Berlin. Kamu merombak dirimu, grafis dan tulis kamu~ mix. Itu luar biasa.”

“Tapi, Ann. Di sini tak diterima! Atau mungkin sulit diterima. Karena itu, aku tak terlihat oleh warga desa Puisi. Mereka mengatakan aku gelap! Sulit!” Afrizalian marah.“Setidaknya aku bisa melihatmu, Afrizalian. Dan aku selalu mengagumimu baik di desa Puisi, desa Cerpen, desa Novel, atau di desa Novel. Bahkan, aku menyembah paungmu di desa Esaisastra.” Ucap Ann singkat lalu pergi meninggkalkan Afrizalian di warung Kopi Puisi.

Adieu, Ma!

Hujan turun tanpa basabasi. Angin berlarian seperti The Flash, The fastest man alive. Afrizalian masih terduduk di warung Kopi Puisi. Ia tertunduk lemas, ia pegangi kepala tak berambutnya.

“Anakku, aku telah bicara kepada Ann. Aku tahu cara agar orang-orang bisa melihatmu,” ucap Mbok Susastra dan langsung duduk berhadapan dengan Afrizalian.

Afrizalian tak merespon.

“Anakku, Ann mengatakan kepadaku bahwa kamu adalah orang yang kreatif dan inovatif. Tapi kreativitas dan inovasi selalu membutuhkan keberterimaan dari warga desa Puisi. Ann mengatakan kepadaku, sambil bercanda, mungkin akan lebih baik jika ada warga desa yang membuatkan suatu kamus glosari atau bahkan ensiklopedia khusus untuk desa Puisi.”

“Tidak. Itu akan membuatku semakin invisible, Ma. Pamusuk, Hasanudin, dan yang lain sudah melakukan usaha seperti itu. Tetap saja.”Mbok Susastra terdiam, mengamini perkataan anaknya.

“Aku pergi, Ma. Lagi. Dan mungkin takkan kembali.” Ucap Afrizalian kemudian bangkit dan mencium punggung tangan ibunya.

Adieu, Ma!” Afrizalian pergi.

Mbok Susastra menatap anaknya melangkah gontai yang lamat-lamat menghilang dari pandangannya. Sepi dan sunyi kembali menyelimuti Mbok Susastra di desa Puisi.

Daftar Bacaan:

1. Afrizal Malna, Arsitektur Hujan, Cet.2, Mata Angin, 2016.

2. Afrizal Malna, Dalam Rahim Ibuku Tidak Ada Anjing, Bentang, Cet.1. Bentang, 2016.

3. Wawancara Afrizal Malna oleh BBC, https://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/09/160825_majalah_bincang_afrizalmalna

Sumber Gambar Postingan:https://galeribukujakarta.com/puisi-puisi-afrizal-malna-2/

bacatulis

Recent Posts

Membaca adalah Belajar Menghadapi Tantangan

Membaca adalah belajar menghadapi tantangan. Pertimbangan lain, ketika melihat anak-anak di sekolah dan di luar…

9 months ago

Pentingnya Waktu Membaca Bagi Anak-anak

Pentingnya waktu untuk membaca bagi anak-anak, mudahnya, dikarenakan dua hal: pertama, membaca merupakan keterampilan akademis…

9 months ago

Membaca Itu Mengajari Diri Sendiri

Membaca itu mengajari diri sendiri karena berhubungan dengan penguasaan kosakata. Salah satu artikel dari eric.ed.gov…

9 months ago

Pentingnya Keterampilan Membaca Bagi Anak

Sedang nikmat-nikmatnya ngudut di warung, tiba-tiba datang seorang kawan lama duduk di depanku dan tanpa…

9 months ago

Bahasa Sebagai Bentuk Isi-Ekspresi Sekaligus

Bahasa sebagai bentuk isi-ekspresi sekaligus (BD) merupakan perpaduan antara bahasa sebagai bentuk – isi dan…

10 months ago

Bahasa Sebagai Bentuk (Isi dan Ekspresi)

Bahasa sebagai bentuk mulai terkenal pada pertengahan pertama abad 20. Para linguis mulai banyak beralih…

10 months ago