Categories: ArtikelBacaKitabOpini

Kitab Alala Bait 2 (6 Syarat Mencari Ilmu)

Pendahuluan Kitab Alala Bait 2

Kitab Alala Bait 2 berhubungan dengan Bait 1. Kedua bait ini membahas tentang syarat mencari ilmu. Terkait tentang maksud ilmu di sini, silahkan membaca di tulisan Kitab Alala Bait 1.

Kitab Alala Bait 2 tentang 6 syarat mencari ilmu

Artinya: Ingatlah, siapapun kalian, bahwa kalian tidak akan mendapatkan ilmu kecuali telah kalian penuhi enam hal. Enam hal itu akan saya jelaskan kesemuanya sampai sejelas-jelasnya. Enam hal itu adalah: 1) memiliki kemampuan berpikir, 2) mempunyai semangat, 3) berlaku sabar, 4) mempunyai bekal, 5) Ada yang mengajari, dan 6) waktu yang lama.

Penjelasan bait pertama sudah saya tulis di artikel sebelumnya. Di sini saya hanya menjelaskan bait 2, yang berarti hal-hal yang wajib dipenuhi ketika Anda mencari ilmu.

6 Syarat Mencari Ilmu dalam Kitab Alala Bait 2

Memiliki Kemampuan berpikir

Arti kata الذكاء Kitab Alala Bait menurut kamus Al-Munawwir

Kata الذكاء dalam kamus Al-Munawwir halaman 49, berarti kecerdasan, cerdik. Sementara الذكى berarti yang cerdas atau lekas faham. Dalam kitab Alala, kata الذكاء diterjemahkan dalam bahasa Jawa limpad. Saya tidak tahu maksud kata limpad atau limpat, sejauh yang saya tanya-tanya ke teman-teman, kata limpat itu berarti ‘kelebihan seseorang dalam mengetahui sesuatu’. Dalam hal ini, guru ngaji saya menjelaskan arti kata tersebut cerdas atau pintar. Di banyak artikel di Google juga mengartikan cerdas. Tapi saya kok kurang yakin.

Seingat saya, guru saya atau teman saya mengatakan bahwa ada perbedaan antara cerdas dan pintar. Pintar itu lebih pada adanya proses belajar yang tekun sehingga ia bisa memiliki pengetahuan atau ilmu tertentu. Sementara cerdas lebih pada karunia. Karunia itu berupa otak kualitas tinggi yang dan mempunyai cara kerja yang cepat dan tepat. Umumnya, kecerdasan berhubungan dengan IQ. Dan IQ, terlihat dari logikanya. Gampangnya, orang cerdas itu mudah menyerap suatu pengetahuan. Sementara orang pintar butuh waktu.

Terkait maksud Kitab Alala Bait 2 ini, yang dimaksud dari ذكاء atau diterjemahkan dalam bahasa Jawa menjadi Limpat, menurut saya bukanlah cerdas maupun pintar, tapi memiliki kemampuan berpikir.

Saya teringat, waktu kecil guru saya mengibaratkan otak manusia itu seperti batu yang keras di goa. Lalu batu yang keras itu setiap hari ditetesi air terus-menerus. Yang terjadi adalah batu itu akan terlubangi. Di sini, konsistensi belajar menjadi kunci. Meskipun bodoh, ber-IQ rendah, ketika ia terus-menerus belajar, ia akan bisa memahami juga.

Waktu kecil juga saya teringat ada yang mengatakan otak ibarat pedang. Semakin diasah maka akan semakin tajam. Dan semakin dibiarkan maka akan semakin tumpul. Jadi, sepintar atau secerdas apapun seseorang, ketika malas belajar, otaknya akan tumpul juga. Karena itu, syarat pertama ini langsung berhubungan dengan syarat kedua. Semangat.

Semangat

Arti kata حرص Kitab Alala Bait 2 menurut kamus Al-Munawwir

Secara etimologi, kata حرص menurut kamus Al-Munawwir berarti sangat tamak atau loba akan sesuatu perkara. Dalam kitab Alala sendiri diterjemahkan dalam bahasa Jawa sebagai loba. Pernah mendengar peribahasa jawa, “Ilang kaprajnan kui dening kalobhayan“? Kebijaksanaan lenyap karena ketamakan.

Tapi tentu ketamakan atau loba di sini dalam makna yang posistif. Maksudnya, kita harus haus akan ilmu. Tak pernah merasa puas akan ilmu yang ia miliki. Karena ilmu itu sangat luas. Saya ingat, sewaktu kecil guru saya mengibaratkan ilmu Allah itu jika dituliskan dengan menggunakan tinta sebanyak air di seluruh lautan di dunia, maka itu takkan cukup. Meskipun ditambahi lagi satu lautan yang sama. (Yaa meskipun, sekarang nulisnya nggak pakek tinta. Jadi kalau sekarang mungkin perumpaan itu dirubah, meskipun ditulis dalam komputer bertriliyun-triliyun Gigabytes, Ilmu Allah takkan cukup menyimpan semuanya. hehehe…).

Sewaktu ngaji, guru saya mengartikan حرص dengan semangat. Tekun. Jadi dalam mencari ilmu, kita harus semangat, tidak boleh malas-malasan. Dalam mencari ilmu, seringnya kita akan mengalami banyak rintangan. Misalnya, sulit menghafalkan nadhoman atau sulit memahami suatu bab.

Dalam menghadapi tantangan itu, kita harus berani dan meyakinkan diri, bahwa kita pasti bisa. Tidak boleh kita menyerah dan menunda-nunda. Karena logikanya, jika kita menunda-nunda belajar, atau bahkan lari, maka beban kita akan semakin berat. Semakin lama, kita jadi malas. Pada akhirnya, kabur terus kalau ngaji.

Saya dulu pernah mengalami ini. Ngaji kitab Hidayatus Shibyan. Tertinggal beberapa bab, sulit menghafal, dibaca puluhan kali nggak bisa-bisa. Jengkel. Lalu kita merasa kalau itu terlalu berat. Ditambah kita merasa kalau tidak ada gunanya menghapalkan atau memahami ilmu itu. Kemudian, perlahan-lahan, tanpa sadar kita akan menghidari pelajaran itu. Pada akhirnya, sampai beberapa tahun saya nggak tahu sama sekali mengenai apa itu mad, idghom, dan sebagainya.

Karena itu, dalam mencari ilmu, kita harus punya sifat haus, loba, atau semangat. Dan ketika mendapat masalah kita harus tetap gigih. Tidak boleh menyerah. Caranya, dengan sabar.

Sabar

Saya kira, kita semua tahu maksud dari sabar: menahan diri atau tabah ketika mendapat musibah. Tapi yang sulit kita ketahui adalah batasnya. Karena saya yakin, kadar batas kesabaran seseorang berbeda-beda.

Dan yang lebih sulit lagi adalah mempraktekkannya!

Untuk sekarang, sabar masih sulit dijelaskan. Tapi yang pasti, kata guru saya, sabar itu jurus ampuh dalam menghadapi segala macam cobaan. Dan dalam Alquran, kata sabar seringkali bergandengan dengan salat.

Misalnya surat Al-Ashr, yang terjemahan bebasnya, kamu itu rugi kecuali orang yang melakukan kebaikan, sabar, dan mendirikan shalat. Atau surat Al-Baqarah, jadikanlah salat dan sabar sebagai penolongmu.

Dalam kasus saya dengan kitab Hidayatus Shibyan, sebenarnya bukan karena tidak loba atau tidak semangat. Tapi karena saya sabar.Karena saya ingat, waktu itu, saya sudah sering belajar dan berusaha.

Dengan demikian, kuncinya biar bisa haus akan ilmu atau semangat mencari ilmu, caranya adalah sabar. Jadi jika kita tidak sabar mencari ilmu, bisa dipastikan kita juga tidak semangat atau haus akan ilmu.

Modal

Guru saya, berikut juga banyak artikel yang menafsirkan البلغة sebagai biaya. Maksudnya, mencari ilmu harus ada biayanya. Sedangkan dalam kitab Alala versi Lirboyo, diterjemahkan sebagai ‘ono sangune’ atau kalau dalam bahasa Indonesia artinya ‘ada bekalnya’. Tapi jika mengikuti kamus Al-Munawwir halaman 107, kata البلغة bermakna kehidupan yang memadai, tidak kurang tidak lebih.

Arti kata البلغة Kitab Alala Bait 2 menurut kamus Al-Munawwir

Saya lebih cocok memaknai البلغة sesuai dengan kamus. Ibu saya juga pernah megatakan, “Selama kita niat mencari ilmu, insyaallah Pengeran akan mencukupi semua kebutuhan kita.” Selain itu, jika kita terlalu memfokuskan diri pada biaya dalam mencari uang, kita hanya akan stagnan. Apalagi ketika kita hidup dalam sistem pendidikan yang materialistis. Saya punya cerita tentang ini.

Dulu, setelah lulus kuliah. saya berkeinginan ingin melanjutkan jenjang S-2. Saya sudah berusaha mencari uang ke sana- ke mari, mencari beasiswa, mencari hutangan, dan sebagainya. Saya nekat menjual laptop untuk modal daftar ulang dan mengikuti tes masuk. Saya juga minta restu dari guru-guru saya. Tapi kemudian saya gagal karena tidak bisa membayar daftar ulang sebesar 8.5 juta.

Tahun pertama gagal, tahun berikutnya saya coba daftar di kampus yang berbeda. Tapi berakhir sama, biaya tidak cukup. Saya berpikir bahwa di Indonesia, mencari ilmu harus pakai uang berjuta-juta.

Tapi kemudian saya timbang-timbang, kenapa juga mencari ilmu harus di kampus yang berjuta-juta biayanya? Di situ, saya bertemu teman sekaligus guru saya. Ia menyarankan mending saya mondok, kalong. Saya masih bisa belajar, bekerja dan ngopi.

Sejak saat itu, tentang biaya dalam mencari ilmu, harus bisa kita sesuaikan. Modal mencari ilmu itu wajib (Ini nanti ada hubungannya dengan bait selanjutnya), tapi jangan memaksa. Jika ada uang 1 juta, ya cari tempat belajar yang biaya segitu. Jadi syarat mencari ilmu itu modalnya harus sepadan atau memadai. Jangan ngutang-ngutang.

Ada yang mengajari (Guru dan kitabnya)

Kata ارشاداستاذ diterjemahkan dalam Bahasa Jawa di kitab alala sebagai “piwulange guru” kalau diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia berarti Bimbingan dari Guru.

Pada bagian ini, guru saya menceritakan tentang kisah Nabi Adam yang belajar dari Allah langsung sebelum diturunkan di Bumi. وَعَلَّمَ ءَادَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا, dan Allah mengajarkan kepada Adam semua nama-nama benda (di dunia). Di situ, guru saya mengatakan, bedanya malaikat dengan manusia. Manusia belajar pada guru, sementara malaikat tidak. Karena itu, kehadiran guru adalah unsur penting dalam mencari ilmu.

Saya juga pernah punya cerita tentang pentingnya guru. Dulu saya sering sekali belajar secara otodidak dan dari buku-buku saja. Saya belajar tentang teori-teori dari buku-buku saja. Banyak buku-buku yang saya pelajari, saya rangkum, dan saya buatkan peta konsepnya. Saya melakukan itu hampir setahun. Bodo amat dengan kuliah. Belajar sendiri bisa. Tapi ternyata, hasilnya sangat mengecewakan. Adanya saya malah ‘mumet’ sendiri. Bingung ke sana-ke mari.

Di saat itu, saya teringat metafora dari guru SD saya, Pak Anas (almarhum). Beliau mengatakan, orang mencari ilmu itu ibarat kambing gembala. Talinya adalah buku. Dan yang menggembala adalah guru. Karena itu, saya sering menjadikan buku juga menjadi syarat inheren dalam mencari ilmu. Biar sang penggembala mudah mengarahkan kita.

Di samping itu, guru saya juga mengatakan bahwa ada beberapa syarat juga dalam mencari guru. Mungkin tentang ini akan saya tulis di lain waktu. Namun intinya, kita harus berhati-hati dalam mencari guru, terutama kita sekarang hidup di zaman materialistis.

Waktu yang Lama

Kata طول زمان dalam kitab Alala diterjemahkan ke Bahasa Jawa menjadi “Suwi Mangsane” atau kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti “waktu yang lama.”

Di antara kelima syarat di atas, ini yang paling saya bingungkan. Berapa lama?

Guru saya mengatakan bahwa maksud dari طول زمان adalah tidak boleh terburu-buru. Kalau ngaji, atau mencari ilmu harus sampai tuntas. Misalnya kalau mondok, wajarnya 6 tahun ya mondok 6 tahun. Jangan baru setahun, terus merasa bisa, lalu keluar.

Saya bertanya, “Apakah itu berarti harus sesuai dengan target?”

Guru saya menjawab, “Iya. Tapi target itu hanya sebagai batas kita secara personal. Tetapi, untuk target itu sendiri, guru kitalah yang menentukan. Untuk memutuskan akan berhenti mencari ilmu, kita harus minta restu dari guru kita.”

Lha. Di sini, saya auto-dingkluk. Dulu saya sering keluar sekolah semau-maunya. Seenaknya. Prinsipnya, saya bayar kok. Ya semau saya. Tapi ya gitu, NGGAK DAPAT APA-APA. Di situlah, saya jadi sadar. Ini juga ada hubungannya dengan bait selanjutnya, tentang bagaimana kita menghormati guru.

Kesimpulan Kitab Alala Bait 2

Dalam mencari ilmu, kitab Alala memberikan 6 syarat, yaitu: 1) memiliki kemampuan berpikir, 2) mempunyai semangat, 3) berlaku sabar, 4) mempunyai bekal, 5) Ada yang mengajari (Guru berikut kitabnya), dan 6) waktu yang lama. Keenam syarat itu mempunyai keterkaitan satu sama lain yang tidak boleh dipisahkan. Ketika hilang satu, maka akan pincang. Dan untuk mencapai syarat-syarat ini, bisa kita dapatkan dengan bantuan dari seorang teman. Dan tema tentang teman ini akan dibahas dalam Kitab Alala Bait 3 dan 4 (Tentang Seseorang dan temannya).

bacatulis

Recent Posts

Membaca adalah Belajar Menghadapi Tantangan

Membaca adalah belajar menghadapi tantangan. Pertimbangan lain, ketika melihat anak-anak di sekolah dan di luar…

9 months ago

Pentingnya Waktu Membaca Bagi Anak-anak

Pentingnya waktu untuk membaca bagi anak-anak, mudahnya, dikarenakan dua hal: pertama, membaca merupakan keterampilan akademis…

9 months ago

Membaca Itu Mengajari Diri Sendiri

Membaca itu mengajari diri sendiri karena berhubungan dengan penguasaan kosakata. Salah satu artikel dari eric.ed.gov…

9 months ago

Pentingnya Keterampilan Membaca Bagi Anak

Sedang nikmat-nikmatnya ngudut di warung, tiba-tiba datang seorang kawan lama duduk di depanku dan tanpa…

9 months ago

Bahasa Sebagai Bentuk Isi-Ekspresi Sekaligus

Bahasa sebagai bentuk isi-ekspresi sekaligus (BD) merupakan perpaduan antara bahasa sebagai bentuk – isi dan…

10 months ago

Bahasa Sebagai Bentuk (Isi dan Ekspresi)

Bahasa sebagai bentuk mulai terkenal pada pertengahan pertama abad 20. Para linguis mulai banyak beralih…

10 months ago